Kompas.com - 31/01/2018, 21:34 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com - Penyakit alzheimer ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku. Penyakit ini umumnya dialami oleh orang tua paruh baya.

Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa tanda-tanda alzheimer sebenarnya sudah muncul sejak beberapa dekade sebelumnya.

Orang yang sering terbangun dalam tidur di malam hari atau mereka yang mengaku tidur siang merupakan sebuah kebutuhan sangat mungkin memiliki tanda awal alzheimer di otak.

Penelitian yang sudah terbit dalam jurnal JAMA Neurology, Senin (29/1/2018), menemukan bahwa remaja yang siklus tidurnya terganggu sebenarnya memiliki protein dari zat amyloid plaque di dalam otak yang dapat menandai awal munculnya bibit alzheimer.

Baca juga : Peneliti Sebut Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Alzheimer

Mereka mengungkapkan, kerusakan dalam otak yang dapat menyebabkan kepikunan sudah dimulai sejak usia 15 hingga 20 tahun, sebelum gejala penyakit alzheimer itu jelas.

Seperti dilansir dari Bussiness Insider, Selasa (30/1/2018) memang sudah banyak penelitian yang menghubungkan gangguan tidur dengan alzheimer.

Namun, penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Washington University School of Medicine di St. Louis memberi lebih banyak bukti dan berhasil mengindikasi bahwa gangguan tidur mungkin adalah peringatan dini akan penyakit neurodegenaratif yang berhubungan dengan otak.

Dalam melakukan penelitiannya, peneliti melibatkan 189 orang dewasa sehat yang rata-rata berusia 66 tahun. Peneliti menganalisis otak peserta untuk mencari protein dan plak yang terkait dengan Alzheimer.

Baca juga : Lokasi Awal Perkembangan Alzheimer Ditemukan, Di Mana?

Sebagian besar peserta memiliki siklus tidur yang relatif normal dan 139 tidak memiliki tanda-tanda penumpukan protein amiloid. Beberapa yang lainnya memiliki masalah tidur, tetapi kebanyakan bisa dijelaskan oleh faktor usia, sleep apnea, atau penyebab lainnya.

Namun, sekitar 50 peserta yang otaknya mengandung protein terkait alzheimer, jam tidurnya sudah terganggu.

"Bukan berarti mereka kurang tidur. Tapi tidur mereka cenderung terpotong-potong. Tidur selama delapan jam di malam hari sangat berbeda dengan tidur delapan jam dengan cicilan satu jam di siang hari," kata penulis utama Dr Erik Musiek.

Saat peneliti melakukan uji coba pada tikus, peneliti menemukan bahwa hal itu disebabkan oleh penumpukan amyloid plak pada otak.

Namun, Musiek dan timnya menekankan bahwa jika Anda hanya mengalami masalah tidur semalam saja, maka hal itu tidak menandakan adanya gejala alzheimer.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.