Kompas.com - 30/01/2018, 08:05 WIB
Ilustrasi kanker payudara ShutterstockIlustrasi kanker payudara
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Salah satu dari tiga hal yang wajib dilakukan untuk mencegah dan mendeteksi kanker payudara pada stadium dini adalah mengenali faktor risikonya.

Dipaparkan oleh dr M Yadi Permana, Sp B (K) Onk, dokter spesialis bedah konsultan bedah onkologi di Rumah Sakit Pondok Indah dalam diskusi Serba Serbi Kanker Payudara, Jakarta, Senin (29/1/2018), ada 9 faktor risiko yang mengingatkan kemungkinan seseorang terkena kanker payudara.

Pertama dan yang paling penting adalah riwayat keluarga. Apakah ada anggota keluarga dari garis ibu yang menderita kanker payudara?

Kemudian, riwayat radiasi untuk pengobatan di daerah dada. Yadi menekankan bahwa radiasi di sini bukan rontgen, MRI, atau USG; melainkan radioterapi.

Baca juga : Obat Kanker Limfoma Diproduksi di Dalam Negeri, Harga Lebih Terjangkau

Lalu, seberapa lama lama Anda mengalami menstruasi, dihitung sejak pertama kali hingga terakhir. Jika melebihi 30 tahun, dengan kata lain menstruasi dimulai di usia sangat muda dan terlambat menopause, kemungkinan terkena kanker payudara menjadi lebih tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untungnya, kanker payudara bersifat multifactorial atau dipengaruhi oleh banyak faktor. Walaupun ketiga faktor di atas dan usia tidak dapat diubah, lima faktor risiko di bawah ini dapat diminimalisir untuk mengurangi risiko kanker payudara.

Yadi mengungkapkan bahwa wanita yang tidak pernah mengalami kehamilan yang lengkap atau tidak pernah melahirkan, dan tidak pernah menyusui, lebih berpotensi terkena kanker payudara.

“Jadi jangan pernah segan menyusui anak. Program menyusui itu bukan cuma slogan, tetapi untuk kesehatan ibu juga,” kata Yadi.

Baca juga : Benarkah Menyusui Turunkan Risiko Kanker Payudara?

Selain itu, hindari penggunaan alat kontrasepsi hormonal yang secara kumulatif melebihi delapan tahun. Yadi lebih menyarankan kontrasepsi mekanik seperti spiral dan kondom untuk mengurangi risiko kanker payudara.

Hal yang sama juga berlaku pada penggunaan terapi hormonal setelah menopause, termasuk yang digunakan dalam pencegahan osteoporosis. Hal ini, kata Yadi, perlu dipertimbangkan secara matang karena paparan hormon estrogen merupakan kunci dari timbulnya kanker payudara.

Paparan hormonal ini juga yang membuat obesitas menjadi faktor risiko terakhir. Sebab, lemak menghasilkan hormon estrogen di dalam tubuh.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.