Kali Pertama di Dunia, Pria Ini 2 Kali Lakukan Transplantasi Wajah - Kompas.com

Kali Pertama di Dunia, Pria Ini 2 Kali Lakukan Transplantasi Wajah

Kompas.com - 24/01/2018, 21:27 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

 KOMPAS.com -- 12 tahun lalu, tim bedah Perancis berhasil menyelesaikan prosedur transplantasi wajah pada seorang pria.

Sayangnya, tujuh tahun setelah mengukir sejarah dunia medis, tubuh pasien tersebut menolak organ cangkoknya.

Pasien yang tidak disebutkan namanya itu mengalami kondisi kesehatan yang memprihatinkan sehingga dokter pun memutuskan untuk melepas cangkok wajahnya pada November 2017 lalu.

Keputusan ini membuatnya hidup tanpa wajah. Ia pun mengalami koma dan hidupnya disokong oleh mesin selama dua bulan.

Untungnya, donor ditemukan dan ahli bedah pun kembali melakukan operasi berisiko dengan mentransplantasikan wajah kedua dari donor yang berbeda.

Baca juga : Transplantasi Kepala Penuh Kontroversi Akan Dilakukan Desember Ini

Operasi cangkok wajah dilakukan di Georges Pompidou European Hospital di Paris, Senin (15/1/2018). Operasi baru selesai keesokan harinya.

Meski operasi sudah berhasil dilakukan, namun masih terlalu dini untuk mengatakan apakah transplantasi ini akan diterima atau tidak. Sebab, masih ada kemungkinan terjadi penolakan.

Akan tetapi, jika operasi terbukti berhasil, ini akan membuka kesempatan bagi pasien lainya yang mungkin akan melakukan transplantasi ulang.

" Transplantasi ini menunjukkan untuk pertama kalinya kalau transplantasi ulang memungkinkan dilakukan lagi," jelas badan biomedis dan National Health Service Perancis, seperti dilansir dari Science Alert, Senin (22/1/2018).

Cangkok wajah memang masih jarang dilakukan, kurang lebih baru 40 operasi saja dan setidaknya ada 6 pasien yang meninggal akibat prosedur yang tinggi risiko ini.

Pasien kemungkinan akan memiliki komplikasi seumur hidup, infeksi, pengobatan, dan ancaman penolakan organ yang terjadi secara terus menerus.

Sebagai tindakan pencegahan, mereka harus minum obat imunosupresif selama sisa hidupnya. Obat ini mampu menekan sistem kerja imunitas sehingga penolakan tubuh terhadap organ yang baru bisa ditekan. Meski begitu, obat imunosupresif sebenarnya membawa risiko pada kesehatan pasien.

Baca juga: Selain Bakteri, Transplantasi Tinja Juga Bisa Tularkan Karakter Donor

Pasien transplantasi lainnya, Isabelle Dinoire meninggal karena kanker pada tahun 2016 yang kemungkinan dipicu karena mengonsumsi obat imunosupresif yang ketat.

Kini diperlukan lebih banyak penelitian lagi untuk mengatasi komplikasi dan penolakan organ serta obat-obatan yang diperlukan untuk mencegah reaksi itu, mengingat transplantasi wajah dapat mengatasi berbagai macam kondisi medis yang berasal dari kelainan genetik, kecelakaan, luka akibat diserang, dan lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, pasien tidak hanya rusak wajahnya tapi mereka juga merasa sangat sakit. Adanya transplantasi memungkinkan memulihkan kemampuan pasien untuk bernapas, makan, berbicara serta menampilkan ekspresi wajah.


EditorGloria Setyvani Putri

Close Ads X