Kompas.com - 18/01/2018, 07:07 WIB
Ilustrasi tuberculosis (TBC) Bet_NoireIlustrasi tuberculosis (TBC)
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com --Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit yang meresahkan masyarakat. Sampai saat ini, ilmuwan masih terus mencari obat yang tepat untuk memeranginya.

Saat meneliti D-cycloserin yang merupakan antibiotik lama, ilmuwan menemukan harapan baru untuk pengobatan penderita TBC.

Profesor David Roper di Warwick's School of Life Sciences dan Dr Luiz Pedro Carvalho dari The Francis Crick Institute, menjelaskan keunikan kerja antibiotik D-cycloserin di tahap persenyawan molekular.

"Dalam penemuan baru ini, D-cycloserin terikat pada enzim ligase D-alanine-D-alanine dan mengalami modifikasi secara kimia pada enzim. Modifikasi kimia inilah yang belum pernah terlihat sebelumnya," kata Profesor Roper.

Baca Juga: Indonesia Peringkat Kedua TBC di Dunia, Waspadai Gejalanya

"Kami sekarang mengerti keunikan obat antibiotik ini yang memiliki metode unik saat bekerja terhadap target yang  berbeda," tambahnya, dikutip dari Labnews, Rabu (17/1/2018).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Antibiotik D-cycloserin  menghambat kerja dua jenis enzim berbeda yaitu racemase D-alanine dan D-alanine-D-alanine ligase. Kedua bakteri tersebut diketahui saling terkait untuk membangun dan mempertahankan dinding struktural sel bakteri.

D-cycloserin akan membentuk ikatan molekular dengan kelompok kimia yang membuat enzim racemase D-alanin bekerja, dengan tujuan melumpuhkan enzim D-alanin itu.

Seperti diketahui, D-cycloserin adalah obat antibiotik produk lama yang efektif melawan banyak penyakit akibat mikroba, semisal tuberkulosis. Akan tetapi karena dianggap memiliki efek sampingnya berbahaya, obat tersebut hanya dijadikan cadangan kedua saat proses perawatan.

Baca Juga: Dalam Pengobatan TBC, Ibu Tetap Bisa Menyusui

Saat ini, peneliti telah menemukan keunikan kerja kimiawi D-cycloserin terhadap sejumlah bakteri yang menjadi target. Kinerja kimiawai tersebut kemungkinan hanya dimiliki oleh antibiotik D-cycloserin saja di seluruh dunia.

Peneliti akan melakukan penelitian kembali dengan tujuan memodifikasi struktur D-sikloserin.

Harapannya, menghasilkan antibiotik yang lebih spesifik dan menghindari beberapa efek samping yang merugikan dan mengurangi efek samping kekebalan terhadap antibiotik saat infeksi.

"Dengan memahami proses molekuler dan seluler yang disebabkan antibiotik, kita akan benar mengerti bagaimana membuat obat yang lebih baik, yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi ancaman resistensi antibiotik saat ini," kata Dr Luiz Pedro Carvalho dari Laboratorium Metabolisme Mycobacterial and Antibiotic Research di Francis Crick Institute.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.