Kompas.com - 14/01/2018, 21:05 WIB
Orangutan di Tanjung Puting, Kalimantan Nanosanchez/WikipediaOrangutan di Tanjung Puting, Kalimantan
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Peneliti di Borneo Nature Foundation menemukan perilaku unik dari orangutan yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Mirip dengan manusia, ternyata orangutan punya kebiasaan menggunakan tanaman yang juga digunakan masyarakat adat Kalimantan untuk mengobati radang sendi dan otot.

Temuan ini merupakan hasil dari pengamatan panjang yang dilakukan oleh Borneo Nature Foundation bersama peneliti internasional lainnya.

Sejak tahun 2003 peneliti telah mengamati orangutan liar di hutan Sabangau, Kalimantan Tengah dan mengumpulkan lebih dari 20.000 jam data pengamatan.

Baca juga : Kasih Induk Orangutan Sebesar Kasih Ibu, Ini Buktinya

Dari pengamatan tersebut, peneliti menemukan tujuh momen di mana orangutan menggunakan tanaman Dracaena cantleyi untuk pengobatan mereka, dan peneliti beruntung mampu merekam perilaku langka itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seekor betina bernama Indy diketahui terlihat mengunyah dedauan untuk menghasilkan busa berwarna putih. Busa ini lantas digosokan ke lengan kiri atas selama kurang lebih 7 menit, hampir mirip dengan cara manusia yang menggunakan balsam, sementara daunnya sendiri tidak ditelan.

"Untuk pertama kalinya, aktivitas pengobatan orangutan dikonfirmasi melalui penelitian ini," kata Dr Ivona Foitova, peneliti dari Universitas Masaryk, Republik Ceko dikutip dari , Rabu (10/1/2018).

Tim pun lantas melakukan analisis pada tanaman yang digunakan para orangutan.

"Analisis laboratorium farmakologi membuktikan ekstrak daun Dracaena cantleyi memiliki sifat anti inflamasi," tambahnya.

Baca juga : Baca juga : Ekstrem, Bayi Orangutan Menyusu Selama 8 Tahun 

"Ini adalah berita yang menarik karena penelitian ini mengkonfirmasi bagaimana orangutan dapat melakukan pengobatan sendiri, dan temuan ini sepengetahuan kami merupakan kali pertamanya dalam hal pengaplikasian anti inflamasi pada hewan," ungkap Foitova.

Di hutan Sabangau, sebagian besar orangutan betina dewasa memiliki perilaku ini. Peneliti percaya bahwa orangutan betina menggunakan tanaman ini untuk menenangkan otot dan persendian yang sakit akibat membawa bayi mereka melalui kanopi hutan Kalimantan.

Selain mengungkap perilaku pengobatan pada orangutan, temuan ini juga memberikan pemahaman pentingnya hutan tropis bagi kehidupan. Salah satunya penggunaan untuk tanaman obat.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengungkap berbagai hal lain, seperti misalnya apakah ada tanaman lain yang digunakan orangutan untuk obat dan apa saja jenis tanaman tersebut. Tentunya studi tersebut akan menjadi topik yang menarik dan jarang diketahui oleh khalayak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Monyet Salju Jepang Cari Makan dengan Memancing, Studi Jelaskan

Monyet Salju Jepang Cari Makan dengan Memancing, Studi Jelaskan

Fenomena
Varian Omicron Bisa Kalahkan Dominasi Varian Delta, Ini Kata Pakar Penyakit Afrika Selatan

Varian Omicron Bisa Kalahkan Dominasi Varian Delta, Ini Kata Pakar Penyakit Afrika Selatan

Oh Begitu
Komet Terbesar yang Pernah Ditemukan Ini, Ungkap Bahan Pembentuk Komet

Komet Terbesar yang Pernah Ditemukan Ini, Ungkap Bahan Pembentuk Komet

Fenomena
5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

Oh Begitu
Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Oh Begitu
Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Oh Begitu
10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

Oh Begitu
Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Oh Begitu
Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Oh Begitu
Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Fenomena
Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Oh Begitu
Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Oh Begitu
Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Fenomena
5 Saran Epidemiolog untuk Pemerintah dalam Respons Omicron, Tingkatkan Surveillance Genomic

5 Saran Epidemiolog untuk Pemerintah dalam Respons Omicron, Tingkatkan Surveillance Genomic

Oh Begitu
Bagaimana Cara Menghitung Umur Bintang? Begini 3 Caranya

Bagaimana Cara Menghitung Umur Bintang? Begini 3 Caranya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.