Biasanya Panas, Kini Turun Salju, Ada Apa di Florida? - Kompas.com

Biasanya Panas, Kini Turun Salju, Ada Apa di Florida?

Kompas.com - 04/01/2018, 22:04 WIB
Badai Salju di Florida, Amerika Serikat Badai Salju di Florida, Amerika Serikat

KOMPAS.com — Amerika Serikat sedang dilanda cuaca ekstrem. Bahkan, karena cuaca ekstrem ini, untuk pertama kalinya setelah 29 tahun negara bagian Florida diguyur hujan salju.

Tentu ini sebuah kejadian yang langka karena Florida selama ini dijuluki "Sunshine State" karena selalu berlimpah matahari dan tak pernah merasakan salju. Kejadian langka ini disebabkan oleh badai musim dingin dahsyat yang disebut Bom Cyclone atau Bom Topan.

The National Weather Service (NSW), badan prakiraan cuaca AS, memperkirakan bahwa badai yang menyerang Florida dan Carolina ini bergerak ke arah utara di sepanjang pesisir timur pada Kamis dan Jumat. Badai ini akan membawa salju, es, angin kencang, gelombang badai, dan suhu yang turun.

Baca juga: Ternyata, Mars yang Gersang Juga Punya Badai Salju

Lalu bagaimana hal ini terjadi?

Pertama, aliran cepat membawa udara dingin dan kering dari Kanada ke selatan pada akhir minggu ini. Hal ini membuat aliran dingin yang luar biasa di seluruh Amerika Serikat.

Massa udara dingin itu akhirnya bertabrakan dengan udara yang relatif hangat dan lembab di lepas pantai sebalah selatan, yang melahirkan badai musim dingin ini.

"Udara yang sangat hangat datang di samping massa udara dingin menciptakan banyak energi," kata Jeffrey B. Halverson, ahli iklim di University of Maryland, Baltimore County, dikutip dari NPR, Rabu (03/01/2018).

Halverson juga menyebut hal inilah yang menciptakan penurunan tekanan udara secara dramatis.

"Tekanan udara akan turun dengan sangat, sangat cepat," imbuhnya.

Saat itulah bom topan ini masuk, ungkap Jeff Weber, ahli iklim di University Corporation for Atmospheric Research.

"Kami menyebut bom badai jika menurunkan tekanan sebanyak 24 milibar dalam 24 jam, sebuah bomgenesis, awal dari sebuah badai," ungkap Weber.

Namun badai ini diperkirakan akan sangat dahsyat. Para ilmuwan memperkirakan tekanan udara dalam badai akan turun cukup drastis.

"(Turun) sekitar 50 milibar selama 24 jam ke depan," ungkap Weber.

Baca juga: Dikira Hujan Salju, Ini yang Sebenarnya Terjadi di Jalan Sudirman

"Jadi ini akan menjadi sebuah pendalaman dan penguatan badai dalam 24 jam ke depan," sambungnya.

Halverson juga menyebut bahwa badai ini akan membuat angin yang besar dan menyebabkan cukup banyak masalah.

"Badai ini akan menurunkan banyak udara Artik," kata Halverson.

"Pada hari Jumat dan Sabtu, suhu akan turun," sambungnya.

Halverson menyebut bahwa suhu akan turun ke angka tunggal atau bahkan di bawah nol derajat.


EditorResa Eka Ayu Sartika
SumberNPR
Komentar
Close Ads X