Ternyata, Mars yang Gersang Juga Punya Badai Salju - Kompas.com

Ternyata, Mars yang Gersang Juga Punya Badai Salju

Kompas.com - 25/08/2017, 17:04 WIB
Foto bukit pasir bersalju di Mars yang diambil oleh Mars Reconnaisance Orbiter pada 21 Mei 2017NASA/JPL/University of Arizona Foto bukit pasir bersalju di Mars yang diambil oleh Mars Reconnaisance Orbiter pada 21 Mei 2017

KOMPAS.com -– Mars kembali menunjukan kemegahan alamnya. Seperti bumi, planet yang dikenal tandus itu ternyata juga memiliki salju.

Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal Nature Geoscience pada Senin (21/8/2017) lalu, para peneliti mengonfirmasikan dan menjelaskan salju yang terlihat saat proyek pendaratan Phoenix milik Badan Antariksa Amerika Serika (NASA), hampir satu dekade lalu.

Saat itu, Jim Whiteway, ilmuwan utama untuk stasiun meteorologi pada projek Phoenix, tengah mencari tanda bahwa salju itu dapat menyentuh permukaan tanah Mars.

(Baca juga: Lebih Sadis dari Perkiraan, Bisakah Mars Jadi “Rumah” Berikutnya?)

Menurut tim peneliti, Mars kemungkinan mengalami badai salju di malam hari. “(Kami) menggunakan kombinasi model meteorologi komputer dan pengamatan, melakukan simulasi untuk membuktikan bahwa angin kencang dan presipitasi cepat partikel air es terjadi di malam hari dalam badai salju,” kata penulis utama Dr Aymeric Spiga.

Dilansir dari Newsweek 23 Agustus 2017, partikel salju di Mars, berkebalikan dengan partikel salju di bumi yang jauh lebih besar dan kompleks, berbentuk kristal es yang sangat kecil. Ukurannya sekitar puluhan mikrometer. Oleh karena itu, meski dapat mencapai permukaan tanah, jumlah salju di Mars akan jauh lebih kecil.

(Baca juga: NASA Akui Tidak Mampu Kirim Manusia ke Planet Mars)

Spiga mengatakan, partikel es di awan Mars memancarkan cahaya inframerah pada malam hari yang sangat efisien untuk mendinginkan atmosfer. Pendinginan tersebut menciptakan lapisan udara dingin di atas lapisan udara yang lebih hangat akibat penyerapan cahaya saat siang hari dan mencegah terjadinya salju.

Dengan adanya dua lapisan udara, maka terjadilah konveksi -- panas atau kelembaban yang bergerak secara vertikal melalui atmosfer-- disertai angin kencang dan pencampuran keduanya.

Hasilnya? “Jadi, akan terlihat seperti embun beku tipis yang tak sempurna. Bukan gumpalan salju tebal seperti di Bumi,” kata peneliti astrofisika, geofisika dan meteorologi di Université Pierre dan Marie Curie, di Paris, Perancis itu.


EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberNewsweek

Komentar
Close Ads X