Kompas.com - 04/01/2018, 09:04 WIB
wheat bread varietas wheat bread varietaswheat bread varietas
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com - Para peneliti di Australia berhasil menciptakan teknik pembibitan baru tanaman gandum yang menghasilkan kualitas gandum yang lebih bagus.

Biasanya sebuah varietas tanaman baru butuh waktu 10-20 tahun untuk bisa dikatakan tahan uji dan layak untuk menjadi produk pangan. Namun, terobosan baru dari peneliti di Australia membantah anggapan tersebut.

Inspirasi datang saat para peneliti di Queensland Alliance for Agriculture and Food Innovation (QAAFI) melihat para astronot NASA menyinari tanaman gandum secara berulang-ulang di luar angkasa agar lebih cepat tumbuh.

Dr Lee Hickey, peneliti senior di QAAFI, mempelajarinya dan memakai teknik para astronot tersebut untuk mempercepat proses pembibitan varietas benih tanaman.

Baca Juga: NASA Siapkan Dua Misi Baru untuk Teliti Bulan Terbesar Saturnus

"Penelitian kami menunjukkan bahwa kualitas dan hasil tanaman yang ditanam di bawah iklim buatan dengan metode penyinaran terus menerus bisa memperpanjang waktu siang hari, sehingga hasilnya bisa sama baik atau bahkan terkadang lebih baik daripada bibit yang disemai di rumah kaca biasa," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dari benih ke benih lagi, butuh waktu hanya sekitar enam minggu untuk gandum, dan metode ini juga berhasil untuk tanaman lainnya yang tumbuh dalam skala besar di Australia dan negara-negara lain di seluruh dunia, seperti kacang polong," kata Hickey dikutip dari ABC, Selasa (2/1/2018).

Bekerja sama dengan Dow Agrosciences, tim dari Universitas Queensland (UQ) pun mengembangkan sebuah varietas gandum baru dengan kandungan protein tinggi yang dsebut "DS Faraday". Varietas baru tersebut akan dirilis pada 2018.

"Kami memperkenalkan gen dormansi agar tanaman tersebut dapat bertahan pada masa panen yang basah," kata Dr Hickey.

Baca Juga: Merawat Buah Pisang, dari Bibit Hingga Berkulit Mulus

"Ini telah menjadi masalah ilmuwan gandum di Australia, dan kurang lebih menghabiskan waktu 40 tahun untuk diatasi. Kami akhirnya memiliki terobosan untuk masalah tersebut," tambahnya.

Setelah melakukan uji coba selama 10 tahun, penelitian mereka dimuat di Nature Plants dan banyak penelitian lain juga menggunakan teknik tersebut untuk menghasilkan banyak varietas.

Walaupun baru digunakan untuk tujuan penelitian, teknik ini telah dilirik oleh berbagai pihak industri pertanian.

"Ada banyak kepentingan global dalam teknik ini karena pada 2050, produksi makanan akan meningkat sekitar 60-80 persen untuk memenuhi kebutuhan makanan sekitar 9 miliar orang, perkiraan para ahli terkait populasi manusia saat itu," kata Hickey.

"Teknik ini akan sangat ampuh untuk mempercepat pengembangan tanaman masa depan kita," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.