Kompas.com - 19/12/2017, 20:25 WIB
Kadal-buaya Vietnam adalah spesies baru Kadal-buaya Vietnam adalah spesies baru
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Para ilmuwan mungkin bergembira belakang ini. Pasalnya, WWF (sebuah lembaga konservasi dunia) mencatat, lebih dari 100 spesies baru ditemukan di sekitar Sungai Mekong, Asia Tenggara.

Seekor kura-kura pengunyah siput ditemukan di pasar makanan dan seekor kelelawar berwajah tapal kuda serta 115 spesies lainnya di wilayah Mekong. Para peneliti juga menemukan seekor kadal-buaya Vietnam di antara spesies tersebut.

Kadal-buaya ini merupakan salah satu spesies yang sangat langka. Jumlahnya saat ini bahkan tak lebih dari 200 ekor.

Kadal-buaya biasanya ditemukan di hutan cemara Vietnam utara. Reptil bersisik ini pertama kali ditemukan pada 2003 namun baru dikonfirmasi sebagai spesies baru pada Selasa (19/12/2017).

Temuan ini makin menegaskan kekayaan hayati di Asia Tenggara. Negara-negara Asia Tenggara yang mengapit sungai Mekong (Vietnam, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Laos) memang merupakan wilayah yang paling kaya akan keanekaragaman hayatinya di dunia.

Baca juga: Biomassa Jadi Kunci Jaga Keanekaragaman Hayati Ikan Karang

Sayangnya, temuan ini disertai kekhawatiran para ilmuwan terhadap terancamnya spesies-spesies tersebut. Para ilmuwan khawatir jika lebih banyak spesies mati sebelum ditemukan di wilayah ekosistem ini.

WWF ini juga mengingatkan bahwa banyak spesies baru yang terancam punah karena perusakan habitat, penciptaan infrastruktur, perburuan liar, dan perdagangan satwa liar. Hal ini bisa dilihat dari hutan dan sungai di wilayah ini makin terancam oleh pembangunan jalan raya atau bendungan.

Kura-kura pengunyah siput ditemukan di pasar makanan di wilayah Mekong Kura-kura pengunyah siput ditemukan di pasar makanan di wilayah Mekong

Belum lagi perdagangan satwa liar yang makin berkembang pesat. Tentunya ini membuat lebih banyak satwa yang diburu, termasuk spesies langka.

Meski begitu, laporan WWF pada 2016 ini menjadi angin segar di antara berbagai berita kepunahan satwa belakangan ini. Dalam laporan WWF tersebut, 115 spesies baru yang tercatat di antaranya termasuk 11 amfibi, dua ikan, 11 reptil, 88 tanaman, dan tiga mamalia.

"Sementara tren global mengkhawatirkan dan ancaman terhadap spesies serta habitatnya di Mekong Besar makin tinggi, penemuan spesies  baru ini memberi harapan besar," kata Lee Poston dari WWF dikutip dari AFP, Selasa (19/12/2017).

"Tapi kita harus berbuat lebih banyak untuk melindungi habitat mereka (spesies baru) dan mencegahnya masuk dalam perdagangan satwa liar," tambahnya.

Menurut catatan WWF, lebih dari dua spesies baru ditemukan setiap minggunya di wilayah ini selama 20 tahun terakhir. Dengan kata lain, sudah lebih dari 2.500 spesies baru yang ditemukan di sekitar sungai Mekong.

Baca juga: Keanekaragaman Hayati Laut Lindungi Ikan dari Perubahan Iklim

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Makanan yang Bisa Menyebabkan Perut Kembung

5 Makanan yang Bisa Menyebabkan Perut Kembung

Oh Begitu
5 Klasifikasi Kasus Hepatitis Akut Misterius Menurut WHO dan Kemenkes, Apa Saja?

5 Klasifikasi Kasus Hepatitis Akut Misterius Menurut WHO dan Kemenkes, Apa Saja?

Oh Begitu
Hepatitis Akut Misterius Masuk Kategori Kejadian Luar Biasa, Apa Bedanya dengan Pandemi?

Hepatitis Akut Misterius Masuk Kategori Kejadian Luar Biasa, Apa Bedanya dengan Pandemi?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] KKN di Desa Penari Alasan Suka Film Horor | Sejarah Banjarmasin | Kapan Gerhana Bulan Total 2022

[POPULER SAINS] KKN di Desa Penari Alasan Suka Film Horor | Sejarah Banjarmasin | Kapan Gerhana Bulan Total 2022

Oh Begitu
10 Mitos Blood Moon, Kedatangan Jaguar hingga Setan Rahu Telan Bulan

10 Mitos Blood Moon, Kedatangan Jaguar hingga Setan Rahu Telan Bulan

Fenomena
Penemuan USG yang Selamatkan Jutaan Ibu Hamil dan Janin dari Kematian

Penemuan USG yang Selamatkan Jutaan Ibu Hamil dan Janin dari Kematian

Oh Begitu
Heboh Film KKN di Desa Penari, Ini Alasan Orang Suka Menonton Film Horor

Heboh Film KKN di Desa Penari, Ini Alasan Orang Suka Menonton Film Horor

Oh Begitu
Membersihkan Vagina dengan Sabun Antiseptik Berisiko Bikin Miss V Berbau, Kok Bisa?

Membersihkan Vagina dengan Sabun Antiseptik Berisiko Bikin Miss V Berbau, Kok Bisa?

Oh Begitu
Cara Mengukur Tekanan Darah Sendiri di Rumah

Cara Mengukur Tekanan Darah Sendiri di Rumah

Kita
6 Manfaat Labu Kuning, Mencegah Kanker hingga Cocok untuk Diet

6 Manfaat Labu Kuning, Mencegah Kanker hingga Cocok untuk Diet

Oh Begitu
Kapan Gerhana Bulan Total 2022 Terjadi? Ini Penjelasan Ahli

Kapan Gerhana Bulan Total 2022 Terjadi? Ini Penjelasan Ahli

Fenomena
Minum Obat Hipertensi Seumur Hidup Tidak Sebabkan Penyakit Ginjal, Ini Penjelasannya

Minum Obat Hipertensi Seumur Hidup Tidak Sebabkan Penyakit Ginjal, Ini Penjelasannya

Kita
Sejarah dan Asal-usul Banjarmasin, dari Kata Banjarmasih hingga Peperangan Pangeran Samudera

Sejarah dan Asal-usul Banjarmasin, dari Kata Banjarmasih hingga Peperangan Pangeran Samudera

Oh Begitu
Penyakit Cacar Monyet Meluas, 4 Negara Ini Melaporkannya

Penyakit Cacar Monyet Meluas, 4 Negara Ini Melaporkannya

Oh Begitu
Sistem Pernapasan Buaya

Sistem Pernapasan Buaya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.