Kompas.com - 19/12/2017, 18:00 WIB
Adegan yang diambil dari rekaman video seorang pengendara mobil dari Kostanai, Kazakhstan, ke Chelyabinsk, Rusia, Jumat (15/2/2013) memperlihatkan bola api besar meteor yang meledak. AP Photo/Nasha gazeta, www.ng.kzAdegan yang diambil dari rekaman video seorang pengendara mobil dari Kostanai, Kazakhstan, ke Chelyabinsk, Rusia, Jumat (15/2/2013) memperlihatkan bola api besar meteor yang meledak.
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Kita perlu banyak bersyukur karena punya atmosfer kuat yang melindungi kita dari bahaya meteor yang masuk ke bumi. Saat melewati atmosfer, meteor akan meledak dan tidak akan membahayakan bumi karena sudah berupa puing-puing bahkan tak berbekas.

Penelitian terbaru juga menegaskan kembali hal ini. Bahkan, penelitian tersebut menjelaskan lebih rinci mengapa meteor meledak saat melewati atmosfer planet kita.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Meteoritics & Planetary Science itu menyebut bahwa atmosfer bumi merupakan perisai yang lebih baik untuk meteroid daripada yang diungkapkan pada penelitian sebelumnya.

Para peneliti menjelaskan ketika sebuah meteor meluncur ke bumi, udara bertekanan tinggi di depannya akan masuk ke dalam pori-pori dan retakannya. Hal ini kemudian mendorong bagian meteor itu terpisah dan meledak.

Baca juga: Ini 3200 Phaethon, Asteroid Aneh yang Jadi Induk Hujan Meteor Geminid

"Ada perbedaan besar antara udara bertekanan tinggi di depan meteor dan kekosongan udara di belakangnya. Jika udara bisa bergerak melalui bagian-bagian di meteoroid, ia dapat dengan mudah masuk ke dalam dan menghembuskan potongan," kata Jay Melosh, profesor Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Planet di Universitas Purdue, Amerika Serikat dikutip dari Sci-News, Rabu (13/12/2017).

Meteoroid sendiri seperti tumpukan reruntuhan yang penuh dengan patahan dan pori-pori. Sayangnya, sebelumnya tak ada ilmuwan yang mempertimbangkan bagaimana pengaliran udara pada meteroid bisa mempengaruhi ledakan mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Profesor Melosh dan koleganya menemukan mekanisme pengaliran udara ini saat mensimulasikan kembali ledakan meteor di Chelyabinsk, Rusia pada 2013 lalu. Saat itu, meteor sebesar 20 meter ini meledak sekitar 29 kilometer di atas Pegunungan Ural, Rusia.

Ledakan ini tentu saja mengejutkan dan membawa energi yang sebanding dengan senjata nuklir kecil. Padahal saat memasuki atmosfer bumi, benda ini telah menjadi sebuah bola api yang terang.

Meteor ini diperkirakan awalnya memiliki bobot 10.000 ton. Namun saat mencapai permukaan tanah, hanya tinggal 2.000 ton puingnya yang ditemukan.

Ini menunjukkan bahwa terjadi sesuatu di atmosfer bagian atas yang menyebabkannya hancur. Untuk memecahkan teka-teki ini, para ilmuwan bekerja keras.

Halaman:


Sumber Sci-News
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.