Kompas.com - 13/12/2017, 20:08 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -– Video game sering kali dianggap sebagai penyebab kemunduran kemampuan otak. Alasannya, karena banyak anak yang pencapaian akademik menurun ketika terlalu sering bermain game.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Psychological Bulletin yang terbit pada 27 November lalu berkata lain.

Para peneliti menemukan bahwa game, khususnya yang bergenre aksi dan perang, mampu meningkatkan kemampuan kongitif otak seperti persepsi, atensi, dan waktu reaksi.

Kesimpulan ini didapat dari pengumpulan hasil penelitian selama 15 tahun terakhir. Pengerjaannya dilakukan bersama Universitas Jenewa (UNIGE), Universitas Columbia Santa Barbara dan Universitas Wisconsin.

Tim peneliti internasional lantas membedah berbagai literatur yang pernah dipublikasikan. Mereka juga menghubungi lebih dari enam profesor untuk meminta data yang tidak dipublikasikan terkait game aksi.

Baca juga : Mungkinkah Kecanduan Game adalah Bentuk Kekosongan Jiwa?

"Kami memutuskan untuk mengumpulkan semua data yang relevan dari tahun 2000 sampai 2015 dalam upaya untuk menjawab pertanyaan ini, karena ini adalah satu-satunya cara untuk memiliki gambaran yang tepat tentang dampak nyata game aksi,” kata Daphné Bavelier, profesor Bagian Psikologi di Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan UNIGE.

Penelitian yang melibatkan 8.970 orang berumur 6-40 tahun, termasuk pemain game dan bukan pemain game, ini mencakup uji spasial seperti mendeteksi anjing dalam kawanan hewan, menillai kemampuan mengerjakan tugas ganda, dan mengubah rencana sesuai peraturan yang ditentukan.

Hasilnya, kognisi pemain game satu setengah kali lebih baik dibandingkan bukan pemain game.

Namun, belum semua pertanyaan para psikolog dapat dijawab. Sebagai contoh, apakah kemampuan kognitif berkembang berkat bermain game aksi, atau para pemain membutuhkan kemampuan kognitif tertentu untuk memainkan game tersebut.

Baca juga : Bak ?Game of Thrones?, Begini Intrik dalam Istana Ratu Lebah

Penelitian pun berlanjut dengan studi intervensi yang melibatkan 2.883 orang, baik pria dan wanita, yang bermain game maksimal satu jam per pekan.

Kemampuan kognitif mereka pun diuji, dan dipisah secara acak menjadi dua kelompok: kelompok game aksi dan kelompok game kontrol (puzzle, tetris, dan simulasi). Kedua kelompok diminta bermain antara 8-50 jam dalam sepekan selama 12 minggu.

Di akhir pelatihan, peserta menjalani tes kognitif untuk mengukur perubahan kemampuan kognitif mereka. Hasilnya pun serupa. Kognisi pemain video game aksi meningkat sepertiga kali lebih baik dibandingkan dengan pemain gim kontrol.

"Penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun di seluruh dunia membuktikan efek sebenarnya dari game aksi pada otak dan membuka jalan untuk menggunakan permainan untuk memperluas kemampuan kognitif," kata Bediou.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.