Seluk Beluk Ancaman Global Krisis Energi Angin dan Keresahan Ilmuwan

Kompas.com - 13/12/2017, 15:00 WIB
Warga bergegas sebelum hujan di dekat turbin angin untuk memasok listrik di Desa Kamanggih, Sumba, 19 Maret 2014. AFP PHOTO / ROMEO GACADWarga bergegas sebelum hujan di dekat turbin angin untuk memasok listrik di Desa Kamanggih, Sumba, 19 Maret 2014.
|
EditorMichael Hangga Wismabrata

KOMPAS.com - Ladang angin merupakan salah satu kunci untuk mengatasi perubahan iklim di dunia saat ini. Sayangnya, pemanasan global mempengaruhi kekuatan energi angin yang melintasi garis lintang utara.

Ladang angin adalah kumpulan turbin angin di suatu tempat yang bertujuan untuk menghasilkan energi. Penggunaan turbin angin diharapkan menjawab permasalahan iklim dunia karena angin merupakan energi terbarukan.

Sebuah penelitian terbaru meneliti dampak kenaikan suhu global terhadap energi angin dan perubahan besar yang akan terjadi pada akhir abad ini di lokasi ladang angin dengan jumlah turbin yang banyak.

Sebagai informasi, ladang angin telah tumbuh lebih dari lima kali lipat dalam satu dekade terakhir. Biaya yang murah adalah alasan utama banyak negara dan daerah beralih pada energi yang satu ini.

Baca juga : Merasa dan Mendengar Deru Angin Kencang Hari Ini? BMKG Beri Penjelasan

Dampaknya cukup nyata, yaitu pengurangan emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil.

Sayangnya, kekuatan energi angin sekarang menurun. Bahkan, di Amerika Serikat bagian tengah, kekuatan angin turun hingga seperlima.

"Kami menemukan beberapa perubahan mendasar dalam energi angin," kata Kristopher Karnauskas dari University of Colorado, Amerika Serikat dikutip dari The Guardian, Senin (11/12/2017).

"Tapi bukan berarti kita tidak harus berinvestasi dalam tenaga angin," imbuh Karnauskas.

Baca juga: Siap-Siap, Kebutuhan Energi Meningkat Dua Kali Lipat pada 2050!

Dengan kata lain, perubahan semacam ini perlu diperhitungkan dalam merencanakan ladang angin di masa depan. Karnauskas juga mengingatkan kita untuk menilai seberapa banyak ladang angin secara khusus dapat mengurangi emisi global.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience ini menggunakan model iklim yang sama dan memproyeksikan emisi di masa depan sebagai panel antar-pemerintah untuk perubahan iklim PBB.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X