Kompas.com - 05/12/2017, 18:44 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com — Memiliki tubuh yang indah adalah impian semua orang. Oleh karena itu, tak jarang banyak orang berdiet untuk mendapatkannya. Namun, tampaknya diet yang "sempurna" berkaitan dengan DNA.

Sebuah temuan awal pada tikus yang diterbitkan pada Jumat (1/12/2017) dalam jurnal online Genetics melihat bagaimana jenis genetika yang berbeda merespons berbagai jenis makanan yang berbeda, termasuk yang umumnya dianggap lebih sehat.

Empat kelompok tikus dengan garis genetik berbeda dipelajari responsnya terhadap pola makan yang berbeda-beda.

Pola makan ini bervariasi dari segi bahan umum, keseimbangan serat, lemak, dan protein, serta "bahan aktif" yang diambil dari beberapa makanan di wilayah tertentu yang sering disebut sebagai superfood.

Baca juga: Menurut Studi Baru, Diet Tinggi Lemak Bisa Bikin Panjang Umur

Beberapa diet yang diuji adalah diet Jepang yang mengandung banyak pati, minyak kedelai, dan ekstrak teh hijau; diet ketogenik yang tinggi lemak dan protein seperti yang dimakan oleh orang Maasai dan Kenya; dan diet Mediterania yang kaya minyak zaitun dan ekstrak anggur merah.

Ketiga diet tersebut dibandingkan dengan diet kontrol yang berisi makanan dari toko dan diet Amerika yang kaya karbohidrat olahan dan lemak.

Setiap kelompok diet menerima jumlah kalori yang sama setiap makan. Namun, selama enam bulan, kelompok genetik yang berbeda menunjukkan efek yang berbeda pada makanan yang sama.

William Barrington, penulis utama penelitian ini, mengatakan, sebagian besar subyek hewan menunjukkan respons yang baik terhadap pola makan yang sehat.

Baca juga: Diet Bebas Gluten Tak Selalu Sehat

Akan tetapi, makalah yang dikutip oleh The Independent, Jumat (1/12/2017), menemukan bahwa "Meskipun setiap pilihan diet lebih memperbaiki kesehatan dibandingkan diet Amerika, tidak ada satu pun yang tidak memperbaiki kesehatan di semua latar belakang genetik."

Pada diet Jepang, satu dari empat jenis genetik menunjukkan kerusakan hati. "Gen keempat (tikus) menunjukkan respons baik pada semua makanan, tetapi tidak pada diet ini (Jepang). Ia mengalami peningkatan lemak di hati dan ada tanda kerusakan hati," kata Barrington.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.