Kompas.com - 24/10/2017, 12:04 WIB

KOMPAS.com -- Bagi sebagian orang, obsesi yang berlebihan terhadap seks atau hiperseks adalah gangguan kejiwaan. Namun bagi sebagian orang lainnya, hiperseks hanya mitos belaka yang melebih-lebihkan dorongan seksual normal.

Hal ini pun terjadi dalam Asosiasi Psikiater Amerika. Menurut buku panduan terbaru mereka, kecanduan seks bukan gangguan jiwa, meskipun kecanduan makanan dan pesta termasuk di dalamnya.

Para pakar juga belum bisa mengidentifikasikan, mengelompokkan, dan mengobati orang-orang yang mengalami kelainan hiperseksual. Sejumlah ilmuwan di bidang kesehatan jiwa bahkan mempertanyakan, apakah hiperseks benar benar sifat kecanduan atau tidak.

(Baca juga: Kamasutra Satwa: Uniknya Seks Kodok yang Tak Mampu Bernyanyi)

Reaksi otak terhadap pornografi

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Socioaffective Neuroscience & Psychology pada tahun 2013 menunjukkan bahwa pola gelombang otak seorang hiperseks yang sedang melihat gambar pornografi tidak menyerupai gelombang otak pecandu narkoba.

Nicole Prause, peneliti dari UCLA, melakukan penelitian terhadap 39 pria dan 13 perempuan yang memiliki masalah dalam mengatur kebiasaan melihat gambar porno.

Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok: kelompok yang ingin mengurangi konsumsi pornografi, kelompok yang mengalami masalah dengan pasangannya karena pornografi, dan kelompok yang menjadi pengangguran karena pornografi.

Dalam eksperimen ini, mereka ditunjukkan serangkaian gambar yang berbau seksual hingga yang benar-benar eksplisit. Para peneliti juga menampilkan gambar yang seharusnya tidak menimbulkan rnagsangan, seperti potongan tubuh korban mutilasi dan gambar orang yang sedang menyajikan makanan.

(Baca juga: Si Dia Gampang Ereksi, Pertanda Hiperseks?)

Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam otak mereka, para peneliti menggunakan alat EEG atau Elektrosefalografi.

Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa ketika seorang pecandu narkoba melihat gambar obat-obatan terlarang, gelombang otak mereka meningkat 300 milidetik setelahnya. Oleh karena itu, para peneliti berhipotesis bahwa hal yang sama juga akan terjadi pada subyek ketika melihat gambar-gambar seksual.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.