Teliti Penyakit Mata Anak, Dosen UGM Raih Penghargaan Tingkat Dunia

Kompas.com - 18/10/2017, 07:00 WIB
Doni Widyandana saat mendapat penghargaan dari ESCRS untuk penelitian Penyakit Mata Anak di Bantul, Yogyakarta. Gloria SetyvaniDoni Widyandana saat mendapat penghargaan dari ESCRS untuk penelitian Penyakit Mata Anak di Bantul, Yogyakarta.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

 

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kerusakan mata pada anak, menjadi hal yang paling disoroti di seluruh dunia saat ini.

Widyandana - akrab disapa Doni -, memilih fokus tersebut dijadikan bahan penelitian program spesialis kedokteran mata dan baru saja penelitiannya dipilih sebagai penelitian terbaik di ajang Internasional.

Dosen yang mengajar di fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Minggu kemarin (15/10/2017) baru saja pulang ke Indonesia.

Dia baru saja mengikuti forum The European Society of Catarat and Refractive Surgeons (ESCRS) di FIL (Feira Internacional de Lisbon), Lisbon, Portugal yang berlangsung sejak 7 sampai 11 Oktober 2017.

Forum yang menyoroti kesehatan mata ini cukup bergengsi, dengan peserta dari seluruh dunia. Di sinilah wadah berdiskusi dan mempresentasikan hasil penelitian terkait mata di depan seluruh perwakilan negara.

Setidaknya, ada 3059 presentasi dengan berbagai format seperti free paper, e-poster, course, dan lain sebagainya terkumpul.

"Dari jumlah itu diseleksi panitia, sampai tinggal 500 paper, yang lainnya jadi poster," ujar Doni saat dijumpai di Yogyakarta, Selasa (17/10/2017).

Paper dari Indonesia yang diwakili oleh Doni lolos.

Dalam acara tersebut, Doni mempresentasikan papernya yang berjudul "Early detection of Childhood Visual Impairment and Blindness using Key Informant Method in Bantul District, Indonesia" (Deteksi Dini Kerusakan Visual Anak dan Kebutaan dengan Metode Informan Kunci di Bantul, Indonesia).

Dosen yang bertugas di Departemen Pendidikan Kedokteran FK UGM itu tidak hanya hadir menjadi peserta yang terpilih untuk mempresentasikan karyanya.

Penelitiannya diapresiasi dan dinobatkan sebagai penelitian terbaik yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan, yang akhirnya membawa pulang Orbis Medal.

Orbis sendiri merupakan LSM Internasional yang berpusat di Amerika, di mana mereka fokus melakukan terapi dan pencegahan untuk kebutaan di negara berkembang.

"Di forum ini, ada award-nya, yaitu Orbis Medal. Mereka menyediakan medali untuk free paper dan poster terbaik, yang terkait dengan terapi dan pencegahan untuk kebutaan di negara berkembang. Saya dapat award ini," sambungnya tertawa.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X