Kompas.com - 16/10/2017, 19:58 WIB
Ajang Festival bawang nusantara dan aneka produk holtikultura Indonesia seperti cabe, tomat, kentang, wortel dan buah lainnya berlangsung meriah di lapangan Haji Andi Liu, Cakke Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang Sulawesi selatan, Sabtu (14/10). Puluhan peserta dari berbagai propinsi terutama penghasil bawang nusantara ikut dalam festival tahunan ini. KOMPAS.ComAjang Festival bawang nusantara dan aneka produk holtikultura Indonesia seperti cabe, tomat, kentang, wortel dan buah lainnya berlangsung meriah di lapangan Haji Andi Liu, Cakke Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang Sulawesi selatan, Sabtu (14/10). Puluhan peserta dari berbagai propinsi terutama penghasil bawang nusantara ikut dalam festival tahunan ini.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Makanan tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja. Dewasa ini, makanan juga memiliki peran dalam kehidupan sosial.

Seperti yang ditulis dalam makalah "Siput Milenial yang Inovatif: Cerita tentang Slow Food University of Wisconsin", yang ditulis oleh Lydia Zepeda dan Anna Reznickova.

Dalam jurnal yang diterbitkan secara online di Agriculture and Human Values sejak 8 Juni 2016 itu, mereka mengungkapkan fakta mengejutkan terkait makanan.

Slow Food University of Wisconsin (SFUW) menceritakan kelompok siswa yang terus tumbuh. Dari ide seorang perempuan menjadi komunitas besar dengan anggota lebih dari 3.200 orang.

SFUW mendedikasikan diri untuk membuat pangan yang berkelanjutan, diproduksi secara cukup, dan makanan lezat yang bisa didapatkan di sebuah kota kecil dengan harga terjangkau. Inovasi pangan ini dipandang berkelas.

Baca juga: "Urban Farming", Mungkinkah Jadi Solusi Masalah Pangan

SFUW merupakan adaptasi dari Slow Food International (SFI) yang dibentuk di Paris pada 1989, yang mempromosikan gaya hidup berkualitas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Lezat, bersih, dan makanan yang adil," dijadikan slogan untuk mempromosikan makanan sehat, di mana pangan disiapkan dengan bahan lokal dan harga yang adil untuk konsumen, produsen, juga buruh.

"Slow Food University of Wisconsin-Madison (SFUW) dapat dicirikan sebagai inovasi sosial. Penyelamatan kebutuhan sosial yang timbul dari kegagalan pasar atau pemerintah," seperti ditulis dalam The Journal of Applied Behavioral Science.

Dalam jurnal tersebut, mereka tidak hanya menceritakan tentang awal mula SFUW.

Kelompok ini mampu membuka mata bahwa makanan memiliki peran untuk membangun jaringan, kemitraan, dan tujuan bersama.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.