Kompas.com - 29/08/2017, 17:04 WIB
Anjing forensik Kayle duduk pada titik yang terdapat aroma jenazah Rachel Shea/National GeographicAnjing forensik Kayle duduk pada titik yang terdapat aroma jenazah
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

Apalagi laporan yang diterima oleh tim ekspedisi juga mengungkap, saat pulau itu dikolonisasi pada tahun 1940, ditemukan 13 tulang yang kemudian dikirim ke Fiji. Namun, tulang-tulang itu kemudian menghilang. Administrator kolonial menduga itu adalah tulang-tulang Earhart.

"Ada potensi lebih banyak tulang lagi di sana. Sekitar 193 tulang yang belum diketahui," kata Tom King, arkeolog senior TIGHAR.

Bantuan anjing pelacak

Itulah mengapa dalam ekspedisi ini, tim kemudian membawa serta anjing pelacak yang terlatih. Anjing-anjing ini akan membantu melacak keberadaan Earhart di pulau Nikumaroro. "Mereka memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi daripada radar dalam mengidentifikasi benda-benda," kata Fred Hiebert, arkeolog lain yang terlibat dalam ekspedisi ini.

Meski begitu, misi ini punya tantangan tersendiri. Empat anjing yang dibawa harus bertahan dalam penerbangan trans-Pasifik dan juga menghadapi pelayaran selama hampir seminggu untuk sampai ke Nikumaroro.

Sementara itu, pulau itu sendiri panas, tertutup vegetasi yang lebat dan penuh dengan kepiting, termasuk kepiting kelapa. "Anjing-anjing ini tidak efektif dalam kondisi yang panas. Namun, setidaknya mereka bisa bekerja di sekitar semak belukar. Saya yakin mereka bisa mencium aroma," tambah Hiebert.

Jika mencium aroma tulang manusia, anjing-anjing tersebut kemudian akan duduk atau berbaring di dekat tempat dengan bau yang paling kuat. Setelah itu, arkeolog akan menggali area yang luas di sekitarnya.

Setelah tim menemukan tulang, mereka akan mengirimkannya kembali ke Amerika Serikat untuk dilakukan analisis DNA. Earhart memiliki keluarga yang bisa menjadi perbandingan, walaupun Noonan tidak.

Aroma jenazah di bawah pohon

Arkeolog Dawn Johnson dan dokter Kim Zimmerman mengambil sampel tanah untuk dianalisis di laboratorium DNA.Rachel Shea/National Geographic Arkeolog Dawn Johnson dan dokter Kim Zimmerman mengambil sampel tanah untuk dianalisis di laboratorium DNA.

Anjing pelacak ternyata berhasil menemukan titik di mana Earhart kemungkinan meninggal 80 tahun yang lalu. Titik tersebut memang sebenarnya pernah dipetakan oleh tim peneliti TIGHAR. Mereka menyebut tempat terbuka itu dengan sebutan situs tujuh.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.