Kompas.com - 24/08/2017, 17:02 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kanker adalah masalah besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya, penyakit ini menelan lebih banyak korban daripada HIV, tuberkulosis, dan malaria.

Dipaparkan dalam konferensi pers Betadine Retro Run 2017, Jakarta, Rabu (23/8/2017), ada tiga macam pengobatan untuk kanker, yaitu pembedahan oleh ahli bedah onkologi, kemoterapi oleh onkologi medik, dan radioterapi oleh ahli radioterapi.

Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, Sp PD-KHOM selaku Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) menjelaskan bahwa kemoterapi, pada dasarnya, bekerja dengan membunuh gen dari sel yang ganas.

(Baca juga: 85 Persen Kasus Kanker Disebabkan oleh Gaya Hidup dan Pilihan)

Akibatnya, beberapa sel yang gennya aktif juga terkena kemoterapi sehingga timbul efek samping seperti rambut rontok, mual, dan muntah.

“Namun, secara umum ia (kemoterapi) merusak dengan menganggu, menghentikan, dan menghambat mekanisme pertumbuhan itu,” ujarnya.

Dia melanjutkan, (kemoterapi) pun ada macam-macam. Misalnya, Anda sebuah sel kanker, ada yang melihat dari depan, dari belakang, dan dari samping. Makanya, yang namanya kemoterapi itu obatnya bisa dua sampai tiga sekaligus karena berusaha untuk membunuh atau paling tidak menghentikan sel kankernya dari berbagai arah.

Meski demikian, pengobatan kanker tidak menjamin kesembuhan 100 persen, terutama bagi pasien yang baru didiagnosis kanker pada stadium akhir. Tidak jarang pasien yang telah menjalani pengobatan mendapati kankernya kambuh kembali setelah beberapa tahun berlalu.

(Baca juga: Jangan Percaya Mitos, Biopsi Tidak Membuat Tumor Jadi Ganas)

Hal ini karena karakteristik kanker yang terdiri dari banyak sel. Jika ada sel kanker yang masih awal dan lolos dari sasaran kemoterapi, ia bisa memunculkan kanker kembali dalam beberapa tahun.

“Jadi, yang tadinya dari 1 miliar sel lalu terbunuh semua, kecuali satu, ia lama-lama jadi kanker lagi. Itu kelemahannya kalau kanker sudah terlanjur besar,” ucap Prof Aru.

Dia melanjutkan, itulah kenapa kami di YKI bolak-balik berkata bahwa kanker itu baru bisa disembuhkan kalau ditemukannya dalam stadium dini. Jadi, ketangkep semua. Kalau sudah besar lalu kemoterapi, sering kali tengahnya masih ada dan tidak kena.

(Baca juga: Benarkah Arang Bisa Memicu Kanker?)

Prof Aru sendiri mengakui bahwa ada pasiennya yang terkena kanker kembali setelah delapan tahun dan penyakit tersebut sudah mencapai tulang.

“Itulah mengapa setelah selesai kemoterapi dan sudah jadi bagus sekalipun, pasien tidak boleh lupa dengan dokternya. Harus kontrol terus setiap enam bulan sampai setahun,” katanya.

Jika kanker tidak kambuh dalam lima tahun, barulah Prof Aru bersama dokter bedah onkologi lainnya berani berkata bahwa kemungkinan kambuhnya kanker hanya 0,00000 sekian persen. “Tidak mungkin nol karena dalam kedokteran tidak ada always (selalu) dan tidak ada never (tidak pernah),” ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.