Kompas.com - 22/08/2017, 20:30 WIB
Badak-badak merumput di lahan John Hume di Klerksdorp, Afrika Selatan. Hume memiliki peternakan badak terbesar di dunia, dengan lebih dari 1.500 ekor badak. Ia berencana untuk menjual cula dari persediaan besarnya untuk mendanai perlindungan badak-badaknya. David Chancellor, Kiosk via National GeographicBadak-badak merumput di lahan John Hume di Klerksdorp, Afrika Selatan. Hume memiliki peternakan badak terbesar di dunia, dengan lebih dari 1.500 ekor badak. Ia berencana untuk menjual cula dari persediaan besarnya untuk mendanai perlindungan badak-badaknya.
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Sekitar 1.500 badak berkeliaran di peternakan John Hume di Klerksdorp Afrika Selatan yang terletak seratus mil dari Johannesburg.

Setiap 20 bulan atau lebih, Hume, yang melahirkan lebih banyak badak daripada siapa pun di dunia ini, membuat tenang hewan tersebut dan menggergaji culanya. Dia melakukan ini untuk menangkal para pemburu liar, dan berjaga-jaga bila suatu hari nanti stok cula badaknya yang berjumlah enam ton bisa diuangkan.

Hari itu akhirnya tiba. Pada hari Senin, Hume berencana mengadakan lelang online untuk menjual 264 cula badak ke penduduk Afrika Selatan.

(Baca juga: Populasi Lebih Besar, Badak Sumatera Sebenarnya Lebih Terancam)

Sebuah moratorium atau penangguhan untuk membeli dan menjual cula badak di Afrika Selatan telah ada sejak 2009, tapi pada tahun 2015, Hume dan peternak cula badak lainnya mengajukan tuntutan untuk menyudahinya.

Keputusan terakhir pengadilan pada bulan April membuka jalan bagi perdagangan dalam negeri untuk memulai lagi, meskipun larangan perdagangan internasional yang didirikan pada tahun 1977 tetap berlaku.

Departemen Lingkungan Afrika Selatan mewajibkan siapa pun yang ingin membeli atau menjual cula badak untuk mengajukan izin. Hume memenangkan tawaran pengadilan dan mendapat izin di menit-menit terakhir pada sidang hari Minggu, menurut tweet oleh wartawan Afrika Selatan yang berada di ruang sidang.

Tujuan lelang tiga hari yang dinyatakan dalam website adalah untuk "mengumpulkan uang, kemudian mendanai pengembangan dan perlindungan badak lebih lanjut", seperti yang dicatat oleh website yang akan menjadi tuan rumah pelelangan.

Badak putih yang ditutup matanya ini baru saja dipangkas culanya. Pemangkasan cula tersebut untuk menangkal para pemburu liar, Hume juga menggunakan pasukan keamanan untuk melindungi badak-badak tersebut.David Chancellor, Kiosk via National Geographic Badak putih yang ditutup matanya ini baru saja dipangkas culanya. Pemangkasan cula tersebut untuk menangkal para pemburu liar, Hume juga menggunakan pasukan keamanan untuk melindungi badak-badak tersebut.

Afrika Selatan adalah rumah bagi 70 persen dari 29.500 badak putih di seluruh dunia, tapi kini ia sedang berada di tengah krisis perburuan liar. Tahun lalu, para pemburu membantai lebih dari 1.050 badak di negara ini, naik dari tahun 2007 yang hanya berjumlah 13.

Mereka memanfaatkan permintaan akan cula badak yang sebagian besarnya diselundupkan ke China dan Vietnam untuk dipahat menjadi tchotchkes (barang dekoratif) dan karya seni, atau dijual untuk digunakan dalam obat tradisional, meskipun berbagai penelitian belum bisa membuktikan bahwa cula badak memiliki nilai kuratif atau kemampuan mengobati untuk apapun.

Hume menghabiskan 170.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,3 miliar per tahun untuk biaya keamanan badak-badaknya, kata situs lelang tersebut, ditambah biaya tambahan untuk pakan badak juga layanan kesehatan. Sebagian dari pengeluarannya dipakai untuk memangkas cula mereka.

Konsep menjual cula di Afrika Selatan telah menimbulkan kontroversi, dengan sebagian besar kelompok konservasi menentang gagasan tersebut. Kritikus menekankan bahwa hampir tidak ada pasar domestik untuk cula badak di Afrika Selatan, dan dikhawatirkan bahwa setiap cula yang dijual di dalam negeri akan diperdagangkan ke luar negeri.

(Baca juga: Badak Harapan, Harapan Baru Konservasi Badak Dunia)

"Sulit untuk melihat bagaimana pelelangan cula badak domestik ini akan melakukan sesuatu, selain mengirim sinyal yang membingungkan seluruh dunia," kata Ross Harvey, seorang ekonom dan peneliti senior The South African Institute of International Affairs.

"Jika pasar domestik Afrika Selatan hampir tidak ada, kita harus mengajukan pertanyaan tentang siapa pembeli di lelang ini yang akan menjual cula mereka," ujarnya lagi.

Para penentang juga sangat prihatin dengan pelelangan Hume karena memiliki yang berbahasa Vietnam dan China, di samping Inggris.

"Hume jelas memiliki pasar yang lebih luas, dan kita perlu mempertanyakan motifnya menjual cula," tulis Joseph Okori, kepala kantor regional Afrika Selatan untuk International Fund for Animal Welfare, dalam sebuah unggahan di sebuah situs LSM-nya.

Pihak oposisi begitu kuat hingga para hacker ikut menyerang situs tersebut minggu lalu. Situs pelelangan yang diretas tersebut ditulisi: "Kurangnya kasih sayang Anda terhadap hewan sangat keterlaluan dan telah ditangani dengan benar." Sebuah kelompok bernama National Frog Agency/Central Frog Services, yang memiliki akun twitter @NFAGov mengaku bertanggung jawab atas serangan cyber tersebut.

Namun, Hume mengklaim di situsnya bahwa perdagangan cula badak legal akan menyaingi perdagangan ilegal dan menurunkan harga cula, yang mana di pasar ilegal Afrika Selatan dihargai 3.000 dollar AS atau sekitar Rp 4 juta per setengah kilogram.

Akan tetapi, pelelangan tersebut tidak akan memiliki harga pembukaan yang tetap, kata Johan Van Eyk dari Auctioneers Van yang mengawasi pelelangan tersebut kepada Agence France-Presse, seperti yang dikutip dari Phys.org.

“Kita harus melihat berapa yang orang-orang mau bayar, baru kita punya gambaran harganya di pasar legal,” katanya. 264 cula yang dia dagangkan bisa mencapai berat 500 kilogram.

Sebuah tanduk badak ditimbang sebelum disimpan.David Chancellor, Kiosk via National Geographic Sebuah tanduk badak ditimbang sebelum disimpan.

Pemerintah Afrika Selatan pun bersikeras bahwa mereka akan memberikan perlindungan yang sesuai tempatnya sebagai upaya pencegahan bocornya cula-cula tersebut ke pasar gelap.  

"Departemen menempatkan nilai pada kebutuhan untuk memantau pergerakan cula, dan untuk alasan ini, ada sistem yang memungkinkan kita melakukan itu," demikian bunyi sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada 17 Agustus oleh Edna Molewa, Menteri Lingkungan Afrika Selatan.

Dia menunjuk pada sistem perizinan, menandai persyaratan, dan database nasional untuk cula badak, juga profil DNA yang diperlukan dari masing-masing cula sebagai contoh bagaimana pemerintah akan terus melacak culanya.

Hume juga berencana akan melangsungkan pelelangan fisik cula badak pada bulan September mendatang.

Artikel ini sudah pernah tayang di National Geographic Indonesia dengan judul: Kini Menjual Cula Badak di Afrika Selatan Dilegalkan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Oh Begitu
Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Kita
Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Kita
Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Fenomena
NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Fenomena
WHO Selidiki Keterkaitan Virus Corona dengan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

WHO Selidiki Keterkaitan Virus Corona dengan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Oh Begitu
Kapan Seseorang Dikatakan Hipertensi? Kenali Gejalanya

Kapan Seseorang Dikatakan Hipertensi? Kenali Gejalanya

Kita
Apakah Hepatitis Akut Misterius Berpotensi jadi Pandemi Berikutnya?

Apakah Hepatitis Akut Misterius Berpotensi jadi Pandemi Berikutnya?

Oh Begitu
Surabaya Cuaca Terpanas di Indonesia, Berikut Wilayah dengan Suhu Paling Panas

Surabaya Cuaca Terpanas di Indonesia, Berikut Wilayah dengan Suhu Paling Panas

Fenomena
BMKG Ungkap 5 Penyebab Suhu Udara Panas dan Gerah Akhir-akhir Ini

BMKG Ungkap 5 Penyebab Suhu Udara Panas dan Gerah Akhir-akhir Ini

Fenomena
Apa Itu Perilaku Manipulatif dan Ciri-cirinya

Apa Itu Perilaku Manipulatif dan Ciri-cirinya

Kita
Cuaca Panas Indonesia, Pantau Suhu Maksimum Harian Lewat Link Ini

Cuaca Panas Indonesia, Pantau Suhu Maksimum Harian Lewat Link Ini

Oh Begitu
Nelayan Tangkap Ikan Pari Air Tawar Raksasa di Sungai Mekong, Seperti Apa?

Nelayan Tangkap Ikan Pari Air Tawar Raksasa di Sungai Mekong, Seperti Apa?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.