Populasi Lebih Besar, Badak Sumatera Sebenarnya Lebih Terancam

Kompas.com - 22/09/2016, 17:35 WIB
Harapan, badak sumatera, saat berada di kandangnya untuk terakhir kalinya di Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat, pada 29 Oktober 2015. Harapan kini sudah berada di Indonesia dan diharapkan menjadi harapan baru bagi konservasi badak dunia. AP/John MinchilloHarapan, badak sumatera, saat berada di kandangnya untuk terakhir kalinya di Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat, pada 29 Oktober 2015. Harapan kini sudah berada di Indonesia dan diharapkan menjadi harapan baru bagi konservasi badak dunia.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Badak Sumatera (Dicerorinus sumatranus) menghadapi tantangan berbeda daripada saudaranya, badak Jawa (Rhoniceros sondaicus). Populasinya tersebar dalam grup-grup kecil sehingga menyulitkan perkembangbiakan, menjadikan badak Sumatera lebih terancam dari badak Jawa. Perlu inovasi baru dalam pelestariannya.

Demikian pernyataan WWF Indonesia bertepatan dengan Hari Badak Sedunia yang jatuh pada 22 September atau hari ini.

“Upaya konservasi Badak Sumatera di Indonesia harus dilakukan dengan mengedepankan inovasi baru yaitu mendorong program pembiakan semi alami yang lebih aktif," kata Direktur Konservasi WWF Indonesia, Arnold Sitompul lewat rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (22/9/2016). "Perlindungan habitat saja tidak cukup."

Pemerintah Indonesia punya target pertumbuhan populasi sebesar 10 persen untuk 25 satwa dilindungi. Sementara target itu hampir tercapai untuk badak Jawa, badak Sumatera masih jauh.

Populasi badak Sumatera pada tahun 1974 diperkirakan antara 400 - 700 individu. Meski langkah pengembangbiakan berhasil dengan kelahiran Andatu dan Dellilah dari pasangan Andatu dan Ratu, populasi badak Sumatera sebenarnya menurun.

Dalam 10 tahun terakhir, laju kehilangan badak Sumatera sebesar 50 persen. Di sejumlah kantung habitat seperti Kerinci Seblat, jejak badak Sumatera sudah tak ditemukan sejak tahun 2008.

Yuyun Kurniawan, Program Koordinator Proyek Ujung Kulon WWF-Indonesia mengatakan, "Untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang semakin kritis, perlu adanya pendekatan konservasi berbasis spesies seperti yang dilakukan pada Badak Jawa."

Pelestarian berbasis spesies terbukti berhasil pada badak Jawa. Tahun 1970, populasi badak Jawa hanya 47 individu. Tahun 181, populasi bertambah menjadi 51 dan pada 2014 menjadi 57.

Yuyun mengatakan, harus ada upaya lebih untuk mengatasi hambatan reproduksi badak Sumatera. "Jika tidak dilakukan upaya-upaya proaktif untuk mengkonsolidasikan sub-sub populasi yang kecil tersebut, maka ancaman kepunahan lokal Badak Sumatera sangat mungkin terjadi.”




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X