Kompas.com - 22/08/2017, 20:30 WIB
Sebuah tanduk badak ditimbang sebelum disimpan. David Chancellor, Kiosk via National GeographicSebuah tanduk badak ditimbang sebelum disimpan.
EditorShierine Wangsa Wibawa

Konsep menjual cula di Afrika Selatan telah menimbulkan kontroversi, dengan sebagian besar kelompok konservasi menentang gagasan tersebut. Kritikus menekankan bahwa hampir tidak ada pasar domestik untuk cula badak di Afrika Selatan, dan dikhawatirkan bahwa setiap cula yang dijual di dalam negeri akan diperdagangkan ke luar negeri.

(Baca juga: Badak Harapan, Harapan Baru Konservasi Badak Dunia)

"Sulit untuk melihat bagaimana pelelangan cula badak domestik ini akan melakukan sesuatu, selain mengirim sinyal yang membingungkan seluruh dunia," kata Ross Harvey, seorang ekonom dan peneliti senior The South African Institute of International Affairs.

"Jika pasar domestik Afrika Selatan hampir tidak ada, kita harus mengajukan pertanyaan tentang siapa pembeli di lelang ini yang akan menjual cula mereka," ujarnya lagi.

Para penentang juga sangat prihatin dengan pelelangan Hume karena memiliki yang berbahasa Vietnam dan China, di samping Inggris.

"Hume jelas memiliki pasar yang lebih luas, dan kita perlu mempertanyakan motifnya menjual cula," tulis Joseph Okori, kepala kantor regional Afrika Selatan untuk International Fund for Animal Welfare, dalam sebuah unggahan di sebuah situs LSM-nya.

Pihak oposisi begitu kuat hingga para hacker ikut menyerang situs tersebut minggu lalu. Situs pelelangan yang diretas tersebut ditulisi: "Kurangnya kasih sayang Anda terhadap hewan sangat keterlaluan dan telah ditangani dengan benar." Sebuah kelompok bernama National Frog Agency/Central Frog Services, yang memiliki akun twitter @NFAGov mengaku bertanggung jawab atas serangan cyber tersebut.

Namun, Hume mengklaim di situsnya bahwa perdagangan cula badak legal akan menyaingi perdagangan ilegal dan menurunkan harga cula, yang mana di pasar ilegal Afrika Selatan dihargai 3.000 dollar AS atau sekitar Rp 4 juta per setengah kilogram.

Akan tetapi, pelelangan tersebut tidak akan memiliki harga pembukaan yang tetap, kata Johan Van Eyk dari Auctioneers Van yang mengawasi pelelangan tersebut kepada Agence France-Presse, seperti yang dikutip dari Phys.org.

“Kita harus melihat berapa yang orang-orang mau bayar, baru kita punya gambaran harganya di pasar legal,” katanya. 264 cula yang dia dagangkan bisa mencapai berat 500 kilogram.

Pemerintah Afrika Selatan pun bersikeras bahwa mereka akan memberikan perlindungan yang sesuai tempatnya sebagai upaya pencegahan bocornya cula-cula tersebut ke pasar gelap.  

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.