Kompas.com - 15/07/2017, 21:04 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Kita sering mendengar bahwa musik adalah bahasa universal. Namun, ungkapan ini rupanya juga berlaku dalam dunia satwa.

Kakatua raja (Probosciger aterrimus) punya cara jitu untuk merebut hati burung pujaan hatinya, yakni dengan bermain musik.

Selama proses pendekatan, kakatua yang berasal dari Australia dan Guinea Baru ini akan membuat alat khusus seperti stik drum. Stik berasal dari cabang kokoh pohon dan berukuran sekitar 20cm.

Kemudian, dengan mantap kakatua jantan merayu betina dengan cara memukulkan cabang kayu pada pohon tempat bersarang secara berirama. Tindakan mengetuk ini bisa bertahan hingga 30 menit.

(Baca juga: Seperti Manusia, Burung Ini Juga Pilih-pilih Teman)

Memang butuh usaha yang keras bagi kakatua soal pencarian jodoh. "Betina mengamati kakatua jantan dengan sangat ketat, termasuk ketika sedang membuat alat karena akan menunjukkan kekuatan paruh jantan," kata Robert Heinsohn, ketua peneliti di Australian National University seperti yang dikutip dari Live Science, Rabu (28/6/2017).

Selain itu, kakatua betina hanya mampu menetaskan sebutir telur setiap dua tahun sekali. Itulah kenapa selama masa pendekatan, jantan akan mencoba menarik perhatian betina dengan menggunakan irama ketukan yang berbeda dan juga gerakan untuk menunjukkan ketertarikan seksual mereka.

"Ketukan dan irama tampaknya merupakan komponen ekstra yang dirancang lebih lanjut untuk menarik perhatian betina," kata Heinsohn.

Heinsohn pertama kali menemukan kakatua ini ketika sedang mempelajari spesies burung beo di Cape York Peninsula, bagian utara Queensland, Australia, pada tahun 1997 yang lalu.

"Saya berjalan melewati hutan hujan dan mendengar suara ketukan yang jelas di depan. Itu adalah kakatua raja jantan yang terlihat mencolok di tepian batang pohon dengan sebatang tongkat. Saya kemudian melakukan penelitian kembali untuk memahami mengapa mereka melakukan ini," urainya.

Namun, bukan perkara mudah juga untuk melakukan pengamatan tersebut. Heinsohn dan rekan-rekannya butuh tujuh tahun untuk diam-diam merekam aktivitas kakatua itu. Mereka juga harus mencari waktu yang tepat, yaitu sebelum musim bertelur yang dimulai antara bulan Juni dan Juli.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.