Kompas.com - 12/07/2017, 08:08 WIB
Ilustrasi produksi minyak Thinkstockphotos.comIlustrasi produksi minyak
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Anda mungkin sudah bosan mendengar bahwa salah satu penyebab utama dari pemanasan global adalah emisi gas rumah kaca. Namun, tahukah Anda bahwa 71 persen dari emisi gas rumah kaca global ternyata berasal dari 100 produsen saja?

Sebuah laporan baru yang merupakan hasil kerja sama dari Carbon Disclosure Project (CDP) dan Climate Accountability Institute mempelajari Carbon Majors Database untuk mengetahui peran perusahaan dalam perubahan iklim. Hal ini berkebalikan dengan studi-studi sebelumnya yang hanya menyelidiki emisi gas rumah kaca per negara.

Mereka menemukan bahwa industri bahan bakar fosil memiliki andil yang luar biasa dalam perubahan iklim. Bahkan, menurut laporan tersebut, jumlah gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri bahan bakar fosil selama 28 tahun (1988-2015) sama dengan 237 tahun sejak revolusi industri hingga 1988.

(Baca juga: 5 Malapetaka yang Terjadi Jika Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celcius)

Lebih mengerikannya lagi, para penulis melaporkan bahwa setengah dari emisi gas rumah kaca industri global berasal dari 25 produsen saja. Duduk pada posisi teratas adalah perusahaan pertambangan batu bara milik negara China dan Perusahaan Minyak Saudi Arabia (Aramco). Keduanya bertanggung jawab atas 14,3 dan 4,5 persen emisi global sejak tahun 1988.

Sementara itu, perusahaan swasta yang termasuk dalam daftar ini adalah ExxonMobil Corp (2%), Royal Dutch Shell PLC (1,7%), BP PLC (1,5%), dan Chevron Corp (1,3%).

Lalu, satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar ini hanyalah PT Pertamina pada posisi ke-35 dengan kontribusi 0,5 persen terhadap emisi global.

Namun, para peneliti menekankan bahwa publikasi dari daftar ini bukan hanya untuk mempermalukan perusahaan-perusahaan tersebut, melainkan untuk mengingatkan bahwa swasta juga bertanggung jawab untuk seperlima emisi gas rumah kaca global.

“Angka tersebut menjadi tanggung jawab yang signifikan bagi para investor untuk berinteraksi dengan perusahaan-perusahaan penghasil karbon dan mendorong mereka untuk jujur mengenai risiko perubahan iklim,” kata ketua teknis CDP, Pedro Faria, kepada The Guardian 10 Juli 2017.

Para peneliti memperingatkan, jika tren ekstraksi bahan bakar fosil ini terus berlanjut selama 28 tahun ke depan, maka temperatur rata-rata global akan naik pada akhir abad ini hingga empat derajat celcius di atas temperatur sebelum masa industrialisasi.

(Baca juga: Pemanasan Global, 3 Kota Besar Dunia Bisa Tenggelam)

Temperatur tersebut akan meletakkan manusia pada kondisi yang belum pernah dialami sebelumnya dan akan mengancam keamanan pangan dunia, serta membuat bumi tidak lagi bisa ditinggali.

Lalu, walaupun kita tidak bisa mengembalikan temperatur seperti masa sebelum industrialisasi, para peneliti menekankan bahwa inilah saatnya untuk memngurangi emisi global dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Faria menuturkan, perusahaan bahan bakar gas juga harus berperan sebagai pemimpin dalam transisi ini. Kita harus sadar akan tanggung jawab bersama yang berarti belajar dari masa lalu dan melihat ke masa depan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.