Kompas.com - 12/04/2017, 09:00 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Pada 18 Juli 1855, seperti diberitakan New York Times kala itu, seorang pria bernama James Murphy ditahan di kepolisian New York karena menyiram mata dan wajah istrinya dengan air keras. Kasus lain, seorang perempuan bernama Margaret Maloney menyiram tukang pos dengan air keras karena menyangkal telah menghamilinya.

Kasus paling fenomenal mungkin adalah antara Pangeran Leopold dan gadis yang dicintainya, Rybieska. Dirilis The Colonist pada 7 Januari 1916, cinta keduanya tak direstui orang tua sang pangeran. Sang gadis akhirnya memilih menyiram sang pangeran dengan air keras dan akhirnya bunuh diri.

Selama ratusan tahun, air keras memang kerap dimanfaatkan senjata melampiaskan amarah akibat perkara domestik. Diberitakan Kompas.com, 9 Januari 2017, Heriyanto menyiram istri dan 2 anaknya dengan air keras karena terbakar cemburu. kasus lain, siraman air keras oleh Lamaji yang cemburu menewaskan Dian Wulansari pada 1 April 2017.

Baca: Dirawat Sebulan, Wanita yang Disiram Air Keras Pacarnya Meninggal

Penyerangan berlatar belakang sosial politik seperti yang menimpa Novel Baswedan juga pernah terjadi di Ghana. Adam Mahama, tokoh utama partai oposisi Patriotik Baru Ghana, disiram air keras oleh lawan politiknya pda tahun 2015 lalu.

Kostadinka Kuneva, sekretaris Greek Trade Union of Cleaners and Housekeeper, diserang dengan air keras pada Desember 2009 karena memperjuangkan hak perempuan dan buruh. Pelaku penyerangan tersebut diduga adalah bosnya sendiri.

Air keras juga pernah mencoreng wajah pendidikan Indonesia. Diberitakan Harian Kompas pada 17 Februari 1971, iar keras pernah dimanfaatkan untuk menyerang 19 mahasiswa baru saat masa orientasi di Institut Teknologi 10 Nopember di Surabaya (ITS).

Di Indonesia, pemakaian air keras untuk tindakan kriminal meningkat sejak tahun 1970-an. Peningkatan di negara Asia lain terjadi sejak tahun 1950-an. India dan Bangladesh merupakan negara dengan pemakaian air keras untuk kriminalitas tinggi.

Menurut publikasi Ashim Mannan di Burns tahun 2006, laki-laki lebih sering menjadi korban air keras, kecuali di Bangladesh dan Taiwan. Di Inggris, laki-laki kerap jadi korban siraman air keras karena aksi antar gang. Di Bangladesh, perempuan jadi korban siraman air keras karena alasan seksual.

Studi Acid Survivor Trust, lembaga yang menangani korban siraman air keras mengungkap, serangan dengan air keras berkorelasi dengan ketimpangan gender. Di negara di mana perempuan memiliki hak sangat terbatas, kasus siraman air keras lebih tinggi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.