Kompas.com - 03/04/2017, 09:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBestari Kumala Dewi

Padahal anak yang dimaksud masih balita, punya masalah mengunyah makanan padat dan sejak bayi hanya diberi bubur susu dari kemasan instan.

Anak mustahil diberi sayur jika orangtua (dan sebagian besar tenaga kesehatan) masih percaya sayur hijau penyebab asam urat naik – tanpa mau berusaha sedikit mengecek daftar makanan tinggi purin sebagai sumber produksi asam urat.

Mustahil pula dapat meyakinkan masyarakat akan ampuhnya polifenol dan begitu banyak antioksidan sayur sebagai pencegah penyakit degeneratif dan kanker jika mind set mereka bukan tentang mencegah penyakit, tapi soal apa yang enak dimakan hari ini.

Mind set yang sama dimiliki para ABG yang ulahnya bikin pusing kepala – mulai dari permainan meregang nyawa hingga mengerjai pendatang baru atas nama perpeloncoan – yang tidak memikirkan ‘besoknya bagaimana’ yang penting hari ini ‘fun’.

Menjalankan roda kesehatan di negri ini rupanya membutuhkan upaya ekstra dan otak kinclong. Yang membuat posyandu tidak lagi identik dengan bubur kacang ijo. Melainkan menyesuaikan pangan lokal di tiap kabupaten di tanah air dengan kehebatan gizi tak terpikirkan orang yang menyusun panduan gizi selama ini.

Sehingga orang Flores tak perlu sedih jika tidak makan nasi, karena yang mereka butuhkan sesungguhnya bernama ‘karbohidrat’. Begitupun bubur Manado dengan daun gedi bisa menggantikan kedudukan kacang ijo di tanah Minahasa.

Sehingga, para mama di Papua bisa tersenyum lebar menyuapi ubi bakar dengan ikan ke mulut anaknya tanpa harus dicekoki pangan rafinasi yang sudah terlalu lama merusak pulau Jawa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.