Kompas.com - 03/04/2017, 09:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBestari Kumala Dewi

Namun demikian, di sisi industri sebetulnya tidak perlu khawatir tergusur, karena fakultas teknologi pangan masih berdiri. Dan jika cukup kreatif, negri ini banyak sekali sumber pangan prima yang bisa diolah dengan standar internasional dan membanjiri bursa ekspor pangan. Bukan malah untuk dijual dan dikonsumsi rakyat negri sendiri.

Nah, menjadi menarik jika timbul pertanyaan mengapa ekspor ‘pangan jadi’ kerap bermasalah dan dianggap tidak sesuai dengan kriteria internasional.

Bahkan, beberapa waktu yang lalu ada negara yang melarang produk mi instan Indonesia dengan merek yang sama untuk dijual di negara tersebut – karena ‘beberapa komposisi’ yang tidak diperkenankan masuk ke sana, hanya boleh diedarkan di Indonesia.

Padahal, di sini semua orang melahap mi instan tanpa menelisik daftar isi. Mengapa merek yang sama punya diskriminasi konsumen?

Dari sumber tambang hingga produk pangan, bangsa kita selalu dilecehkan jika ingin berdagang dalam rupa bentuk jadi alias telah diolah secara teknologi. Apakah teknologi kita masih jauh di bawah standar, ataukah hanya permainan tekan harga?

Alih-alih anak-anak kita menikmati ikan segar yang saat ini diekspor keluar utuh-utuh, mereka justru diarahkan makan biskuit dengan bahan baku terigu yang tidak tumbuh di bumi pertiwi.

Lebih mengenaskan lagi dalam salah satu demo masak di kota kecil, ibu-ibu memilih bahan baku margarin dan keju untuk pengisi kalori makanan balita.

Padahal di tempat itu telur melimpah, ikan yang kaya lemak sehat tak terhitung bahkan anak-anak sebenarnya gemar makan teri yang renyah, tapi ditakut-takuti mitos cacingan.

Jika ditanya apa yang salah dengan pendidikan gizi, maka kita perlu menengok ke kiri kanan – dari mana informasi gizi itu berasal.

Jika hanya bermodal brosur dan poster, tak heran dalam konseling gizi yang muncul adalah nasehat seperti ini,”Bu, anaknya diberi lauk dan sayur ya..”

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.