Kompas.com - 08/12/2016, 12:15 WIB
Ilustrasi Ilustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

Bakteri buruk yang berhasil bertahan hidup dapat mengubah DNA mereka agar menjadi lebih kuat dari obat antibiotik. Inilah yang disebut sebagai resistensi antibiotik. Umumnya, mikroorganisme yang resisten ini disebut sebagai "superbug".

Setiap kali Anda mengonsumsi antibiotik, Anda juga membunuh beberapa bakteri yang menguntungkan di dalam tubuh Anda. Karena ada kekosongan "ruang" yang ditinggalkan oleh bakteri baik, bakteri resisten akan cepat berkembang biak, dan mentransfer resistensi obat kepada bakteri lain.

Untuk alasan ini, penggunaan antibiotik yang serampangan, secara pasti akan berkontribusi terhadap perkembangbiakan suberbug.

Yang dimaksud penggunaan antibiotik serampangan adalah; penggunaan melebihi, penggunaan yang di bawah dosis (tidak menghabiskan obat sesuai anjuran dokter), terlalu mudah menggunakan antibiotik padahal tubuh masih bisa menyembuhkan dirinya sendiri, penggunaan antibiotik untuk infeksi viral padahal diketahui obat itu kurang efektif, dan bentuk-bentuk penyalahgunaan lainnya.

Jika bakteri dalam tubuh menjadi resistan terhadap obat, Anda bisa mendapat infeksi berulang, yang akan lebih sulit untuk diobati karena jenis obat yang sama tidak akan bekerja, sehingga dokter terpaksa meresepkan antibiotik baru yang lebih kuat dan berspektrum lebih luas.

Di Amerika Serikat, CDC melaporkan ada sekitar 23.000 kematian setiap tahuannya yang disebabkan oleh penyalahgunaan antibiotik.

Ketika dokter menyarankan Anda untuk menghabiskan obat yang dia berikan, dokter berharap semua bakteri jahat dalam tubuh Anda akan hancur dan tidak ada yang tersisa kemudian menjadi resisten.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebuah artikel di New York Times menyebutkan, masing-masing dokter akan mengeluarkan standar yang berbeda untuk penggunaan antibiotik dan meresepkan durasi yang berbeda dari setiap pengobatan.

Artikel ini juga melaporkan mengenai data dari beberapa studi yang mengatakan bahwa dosis antibiotik yang lebih rendah, akan lebih baik dan akan mengurangi kecenderungan terjadinya resistensi.

Sebagai pasien, tentu saja sebaiknya Anda mematuhi nasehat dari dokter tapi Anda juga berhak untuk mendiskusikan keinginan dan kekhawatiran Anda mengenai kemungkinan terjadinya resistensi bakteri.

Menambah wawasan dan komunikasi yang terbuka dengan dokter adalah kunci untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Setelah itu, Anda diharapkan mematuhi kesepakatan dengan dokter untuk mengonsumsi obat sesuai anjuran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Trakhoma
Trakhoma
PENYAKIT
Achondroplasia
Achondroplasia
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.