Kompas.com - 26/10/2016, 10:00 WIB
Distribusi dislokasi, deformasi, penjalaran tsunami dan tinggi tsunami maksimum akibat gempa Mentawai 2010 Yue dkkDistribusi dislokasi, deformasi, penjalaran tsunami dan tinggi tsunami maksimum akibat gempa Mentawai 2010
EditorWisnubrata

Akan tetapi, proses pelepasan energi gempa ini tidak terjadi serta merta seperti halnya gempa biasa yang cuma memakan waktu kurang dari 20 detik.

Untuk kasus gempa Mentawai, pelepasan energi gempa memakan waktu sampai 240 detik atau 4 menit sehingga faktor ini (selain faktor sedimen lunak di dekat batas pertemuan lempeng) membuat goncangan gempa tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat di pesisir, meskipun mengakibatkan dislokasi segmen lempeng sangat besar.

Riset yang dilakukan oleh penulis bersama-sama dengan peneliti dari Amerika yang dipublikasikan dalam Yue, dkk. (2014) menyebutkan bahwa dislokasi yang terjadi akibat pelepasan energi gempa mencapai 24m sehingga terjadi deformasi vertikal dasar laut hingga 5.6 meter.

Yue dkk Distribusi dislokasi, deformasi, penjalaran tsunami dan tinggi tsunami maksimum akibat gempa Mentawai 2010
Inilah yang membedakan karakteristik tsunami-earthquake dengan gempa biasa. Pada gempa biasa dengan kekuatan yang sama, dislokasi dasar laut tidak sebesar yang terjadi pada kasus tsunami-earthquake sehingga tsunami yang dihasilkanpun tidak sebesar pada kasus tsunami-earthquake. 

Survei yang dilakukan oleh peneliti dari dalam dan luar negeri menyatakan bahwa tsunami yang terjadi berkisar antara 2m sampai 14m dengan penetrasi tsunami ke darat rata-rata 300 – 800 m.

Peringatan Dini Tsunami

Kejadian tsunami Mentawai memunculkan isu yang sangat penting dalam kesiapsiagaan terhadap tsunami yakni masalah peringatan dini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada saat itu, BMKG dengan sangat baik telah melakukan diseminasi informasi gempa dalam waktu 4 menit setelah gempa, akan tetapi tidak semua masyarakat bisa mengakses informasi tersebut.

Informasi potensi tsunami yang di-broadcast melalui 4 stasiun televisi swasta ternyata tidak memancing insiatif masyarakat untuk evakuasi karena guncangan gempa tidak terlalu kuat.

Peringatan dini tsunami ini kemudian dihentikan oleh BMKG setelah melihat data bahwa tinggi gelombang tsunami yang tercatat di stasiun pasang surut di Pulau Enggano (berjarak 330 km dari pusat gempa) dan Tanah Bala (Nias Selatan, berjarak 370 km dari pusat gempa) masing-masing hanya 27 cm dan 22 cm.

Akan tetapi, keputusan menghentikan tsunami warning berdasarkan informasi dari dua stasiun di atas ternyata tidak merepresentasikan kondisi yang terjadi di daerah dekat pusat gempa.

Akibat variasi deformasi dasar laut yang beragam, tinggi tsunami di Pulau Pagai Selatan mencapai 14 meter. Tsunami besar di Mentawai ini awalnya tidak diketahui oleh pemerintah pusat bahkan oleh pemerintah Kabupaten Mentawai sendiri.

Kurangnya ketersediaan stasiun pasang surut atau perangkat observasi gelombang tsunami di pulau-pulau kecil atau terluar di Indonesia secara umum menyebabkan bencana besar ini baru diketahui esok harinya.

Untuk kondisi ini, keberadaan perangkat pasang surut yang berada pada jarak yang jauh dari pusat gempa atau perangkat monitoring gelombang tsunami yang berada di lepas pantai seperti perangkat buoy barangkali tidak akan bisa merepresentasikan ketinggian gelombang tsunami yang mungkin terjadi di lokasi yang terletak dekat dengan pusat gempa.

Untuk itu, perangkat monitoring gelombang tsunami dibutuhkan tidak hanya di lepas pantai tetapi juga di kawasan pantai di sepanjang gugus pulau di Indonesia agar karakteristik lokal dari gelombang tsunami dapat terpantau, sehingga informasi akurat dapat disampaikan kepada masyarakat sebelum tsunami datang.

Tsunami yang menyapu pesisir pulau-pulau Indonesia tidak hanya terjadi pada kasus Mentawai 2010. Jauh sebelumnya, tahun 1992 tsunami juga pernah menyapu habis Pulau Babi di lepas pantai Pulau Flores mengakibatkan 700 dari total 1,093 jiwa penduduk pulau tersebut tewas.

Belum lagi rekaman peristiwa-peristiwa lain di Indonesia timur dimana tsunami pernah menghantam pulau-pulau kecil di Maluku bahkan dengan ketinggian lebih dari 50 m.

Prof. Shuto dari Tohoku University, Jepang pernah mengatakan tidak ada satu sistem peringatan dini tsunami manapun di dunia yang mampu memprediksi secara akurat estimasi tinggi tsunami untuk kasus tsunami-earthquake.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

Oh Begitu
Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Fenomena
Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Oh Begitu
Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Oh Begitu
Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.