Kompas.com - 15/01/2016, 14:14 WIB
Ilustrasi cara mata melihat warna. www.colormatters.comIlustrasi cara mata melihat warna.
|
EditorLatief

Nuansa ini pun dipengaruhi kemampuan retina mata manusia mendefinisikan warna. Sel batang di retina (rods) bisa mengenali warna hitam, putih, dan abu-abu. Adapun warna lain dikenali oleh sel kerucut (cones) di retina.

Warna yang dikenali cones pada dasarnya adalah cahaya dengan rentang spektrum antara 400 nanometer hingga 700 nanometer. Spektrum di bawah maupun di atas rentang itu tak bisa ditangkap sel retina. Seperti paparan situs web colormatters.com, warna secara teknis adalah efek visual dari komposisi spektrum cahaya yang terpancar, tersalur, atau terpantul.


Warna biru-violet adalah spektrum terendah yang tertangkap mata, berasal dari cahaya yang lebih redup dibandingkan merah atau hijau. Itulah mengapa tingkatan cahaya biru-violet terlihat lebih gelap dibanding merah atau hijau. Namun, cahaya dengan kegelapan relatif juga dibutuhkan untuk mendapatkan warna yang semakin terang, misalnya dari kuning ke oranye.

Perpaduan cahaya yang berbeda spektrum dalam rentang itu merupakan dasar pembentukan warna lain yang akan bisa juga dikenali retina. Warna kuning dalam rentang spektrum 577 nanometer hingga 597 nanometer, misalnya, akan dikenali ketika cones hijau dan merah di retina teraktifkan.

Perpaduan semua spektrum warna dalam rentang tangkap retina akan menghasilkan warna putih. Kembali ke aurora, warna-warna eksotisnya merupakan akibat dari hamburan serangkaian spektrum cahaya dari gesekan partikel dalam jumlah besar secara bersamaan.

Sebelum redup

Merujuk Peter Delamare dari Institut Geofisika di Amerika Serikat, aurora borealis akan memasuki fase terendah dari siklus 11 tahun lintasan orbit matahari. Seperti dikutip situs web Clapway, aurora bakal meredup selewat 2016 dan diperkirakan baru muncul lagi pada 2024 atau 2026.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kalaupun selewat 2016 masih ada pendaran terlihat di langit bagian utara Bumi, cahayanya redup dan tak secemerlang sebelumnya. Karena itu, jika punya waktu dan dana, tahun ini adalah waktu untuk menyaksikan aurora borealis sebelum meredup. Destinasi paling direkomendasikan untuk itu antara lain Alaska, Norwegia, Finlandia, Islandia, dan Skotlandia.

Namun, tak perlu khawatir juga bila jadwal kegiatan terlanjur padat atau wisata belum menjadi prioritas alokasi dana. Masih ada alternatif lain. Rekaman video, film dokumenter, dan foto aurora borealis sudah banyak bertebaran di beragam situs web, seperti milik lembaga penerbangan dan antariksa Amerika Serikat, NASA.

Meski demikian, untuk mendapati kualitas tayangan pendaran cahaya yang mendekati kondisi asli, pilihan peranti dan teknologinya merupakan penentu. Tak semua layar televisi apalagi komputer dan gadget punya teknologi yang bisa mereproduksi jutaan warna alami.

Menghadirkan keindahan fenomena alam seeksotis aurora borealis butuh layar yang bisa mereproduksi jutaan warna. Televisi Viera dari Panasonic, misalnya, yang punya teknologi hexa chroma drive.

Teknologi tersebut menggunakan enam warna dasar—merah, hijau, biru, cyan, magenta, dan kuning—untuk meracik tampilan warna senatural aslinya. Duduk manis di rumah pun, memakai teknologi semacam itu, kita tetap bisa menikmati eksotisme aurora borealis.


Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X