Kompas.com - 01/12/2015, 13:02 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com — Apa pun jender dan orientasi seksual Anda, Anda berisiko terinfeksi HIV. Jangan lagi pernah berpikir bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit homoseksual.

Esa, Anisa, dan Antonio berbagi cerita tentang awal mula mendapatkan HIV, menunjukkan bahwa masing-masing jender memiliki tantangan berbeda yang bisa meningkatkan peluang terinfeksi HIV.

Kalau tak waspada, siapa pun tanpa sadar bisa mendapatkan HIV bak mendapat lotre.

"Peer pressure"

Untuk laki-laki heteroseksual seperti Esa, peer pressure adalah salah satu tantangan utama. Sekali mengikuti gaya hidup berisiko teman untuk sekadar tren, laki-laki heteroseksual berpotensi mendapat "lotre" terinfeksi HIV.

"Saya dulu penasun. Saya pakai obat dari sejak SMA, tahun 1996. Waktu itu masih sekelas ganja," ujar Esa, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tinggal di Yogyakarta.

"Awalnya dulu bisa memakai obat perlahan. Dari awalnya merokok, minum, sampai ganja, dan kemudian menggunakan jarum suntik," kisah Esa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Esa berhenti menggunakan narkoba suntik setelah ketahuan oleh orangtuanya. Saat itu tahun 1999. Dia pulang dari Jakarta ke Samarinda, melanjutkan studi yang sempat terbengkalai di sana.

Status sebagai seorang HIV positif baru diketahui sekitar 10 tahun kemudian, saat Esa sedang kuliah S-2 di Perth, Australia. 

"Saya mengalami pneumonia. Jalan sebentar saja saya sudah ngos-ngosan saat itu," ujar Esa saat dihubungi Kompas.com, Kamis (26/11/2015) lalu.

Setelah kondisi makin menurun, ESA memeriksakan diri ke dokter. "Saya akhirnya tahu bahwa saya HIV sekaligus AIDS. CD4 saya waktu itu cuma tinggal 6," ujarnya.

Merefleksikan pengalamannya terinfeksi HIV, Esa mengungkapkan bahwa bagi seorang laki-laki heteroseksual, sangat penting untuk menjaga diri tak terpengaruh lingkungan hanya untuk tren.

Pengaruh bisa berupa apa pun. Dari pengamatannya di kalangan ODHA di Yogyakarta, saat ini lebih banyak laki-laki terinfeksi HIV lewat hubungan seksual.

"Trennya berubah. Kalau dulu lebih banyak karena jarum suntik," kata Esa.

Ia berpesan, "Sekarang yang penting bagi laki-laki adalah setia pada pasangan. Jika terpaksa melakukan hubungan seks di luar kepatutan, gunakan kondom."

Kurang memberdayakan diri

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.