Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 26/10/2015, 18:07 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

Apakah Anda mendaftar sendiri ataukah memang sejak dulu sudah tertarik dengan kegiatan alam ini karena Anda pernah menulis bahwa Anda dulu ingin menjadi ahli IT?

Sebenarnya, cerita ini berawal sejak saya tahun kedua kuliah S-1. Waktu itu, saya sudah tertarik dengan tikus. Namun, di kampus saya, tidak ada dosen yang meneliti tikus. Akhirnya, saya mengirim e-mail secara random ke banyak ahli tikus di dunia. Sebagian besar e-mail tersebut tidak dibalas. Di antara yang membalas, Dr Jacob Esselstyn (penulis pertama di publikasi Hog-Nose Rat), yang paling serius menanggapi pertanyaan saya mengenai tikus. Mungkin karena saya bertanya terus, setelah dua tahun terus berkomunikasi dengan e-mail dengan dia, akhirnya saya diajak untuk ikut penelitian bersama ke Sulawesi.

Penelitian pertama yang saya ikuti ke Gunung Gandang Dewata, Sulawesi Barat. Waktu itu, Dr Jacob, Dr Kevin, dan Pak Anang (LIPI) sudah bekerja sama sejak awal untuk penelitian di Sulawesi. Pada saat penelitian inilah, saya bertemu untuk pertama kalinya dengan Dr Kevin, yang kemudian menjadi pembimbing master saya.

Mungkin karena Jake senang dengan saya, dia mengajak saya untuk ikut kembali. Pada penelitian kedua inilah, kami menemukan tikus genus baru (Hog-Nose Rat) atau nama ilmiahnya, Hyorhinomys stuempkei.

Sejak pertama kali diajak penelitian tersebut, Jake memang selalu mengajak saya untuk penelitian di Sulawesi. Sebelumnya tim mereka tiga orang, yaitu Dr Jake, Dr Kevin, dan Pak Anang. Namun, saya menjadi bagian penuh dalam tim dan menjadi yang termuda di tim tersebut. Kami bersama-sama berusaha mengkaji evolusi dan distribusi tikus di Indonesia. Kajian ini penting untuk memahami sejarah kepulauan di Indonesia dan juga dalam mengonservasi keanekaragaman Indonesia secara umum karena keberadaan tikus bisa menentukan keunikan suatu tempat.

Selain itu, sejak awal kuliah, saya aktif di Mapala bernama KCA-LH Rafflesia FMIPA Unand, ini adalah mapala di lingkungan Fakultas MIPA, Universitas Andalas. Mapala ini bukan mapala universitas, anggotanya hanya terbatas mahasiswa FMIPA. Fokusnya ialah pelestarian keanekaragaman hayati dan dikaji dengan asas-asas ilmiah (semi penelitian), sesuai dengan bidang anggotanya. Sejak saat ini, saya sangat mencintai kegiatan alam bebas, terkhusus kegiatan yang melibatkan penelitian biologi.

Mengenai penemuan tikus itu, ceritakan sedikit mengenai perbedaan antara genus dan spesies?

Di dalam klasifikasi hewan dan tumbuhan (Taksonomi), genus berada pada tingkatan di atas spesies. Dalam tata nama, kata pertama adalah genus dan kedua penunjuk spesies. Misalnya Hyorhinomys stuempeki, kata pertama (Hyorhinomys) adalah genusnya dan kedua adalah penunjuk spesies (stuempkei). Kata pertama ditambah penunjuk spesies membentuk nama spesies sehingga dikenal nama ilmiah spesies tersebut Hyorhinomys stuempkei.

Penemuan spesies yang sekaligus genus baru berarti spesies tersebut berbeda sangat jauh dari spesies-spesies yang sudah ditemukan sebelumnya. Peneliti tidak hanya mendeskripsikan spesiesnya, tetapi juga genusnya. Pemberian nama diberikan untuk kedua kata pada nama spesies tersebut, sedangkan penemuan spesies saja, peneliti yang menemukan hanya memberikan nama pada kata kedua saja, kata pertama mengacu pada kelompok genus mirip dengannya, dan sudah ditemukan sebelumnya.

Lalu, kira-kira pentingnya penemuan genus baru ini bagi ilmu pengetahuan?

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+