Kata Ilmuwan Ini, Ajaran Yesus Menyebar Luas berkat Ledakan Meteor

Kompas.com - 24/04/2015, 18:35 WIB
OLEG KARGOPOLOV / 74.RU / AFP Sebuah benda angkasa yang diduga meteorit terlihat melintas di atas kompleks permukiman di kota Chelyabinks, Rusia, Jumat (15/2/2013). Benda angkasa ini kemudian meledak dan mengakibatkan sejumlah bangunan rusak serta melukai sejumlah warga.

KOMPAS.com — Kalau tak ada ledakan meteor 2.000 tahun lalu, ajaran Yesus mungkin tak akan menyebar luas seperti sekarang. Itulah salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil studi William Hartman, astronom dari Planetary Science Institute di Amerika Serikat.

Hartman mempelajari teks Kisah Para Rasul, salah satu bagian dari Perjanjian Baru di Alkitab. Fokusnya adalah pengalaman pertobatan Santo Paulus atau yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus, wilayah yang kini masuk wilayah Turki.

Dalam Kisah Para Rasul Bab 9 ayat 1-31, Bab 22 ayat 1-22, dan Bab 26 ayat 9-24, Paulus awalnya diceritakan sangat memusuhi Yesus dan murid-muridnya, mengancam akan membunuh mereka.

Dia meminta surat kuasa dari imam besar kaum Farisi untuk dibawa ke majelis Yahudi di Damsyik atau Damaskus. Paulus yang awalnya merupakan orang Farisi meminta majelis mencari orang-orang pengikut Yesus dan menghukumnya di Jerusalem jika menemukannya.

Dalam perjalanannya ke Damaskus, Paulus diceritakan menjumpai keajaiban. Dia melihat cahaya terang menyilaukan, lebih terang dari matahari. Paulus dan teman-temannya lalu rebah ke tanah.

Saat rebah di tanah itu, Paulus kemudian mendengar suara. Dalam Perjanjian Baru, suara itu dikatakan sebagai suara Yesus yang bertanya tentang mengapa Paulus berniat menganiaya dirinya dan murid-muridnya.

Setelah mendengar suara itu, Paulus bertanya apa yang mesti dilakukannya. Setelah itu, ada jawaban, "Pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu."

Selesai mendengar suara misterius yang dinyatakan sebagai Yesus itu, Paulus berusaha bangkit. Dia berusaha membuka mata, tetapi tidak melihat apa-apa. Akhirnya, dia dituntun oleh teman-temannya hingga sampai Damsyik.

Tiga hari lamanya Paulus tidak dapat melihat. Dia tinggal di rumah Yudas yang berada di Jalan Lurus. Hingga kemudian, dia bertemu Ananias, murid Yesus yang tinggal di Damaskus. Ananias sendiri mendatangi Paulus setelah menerima firman Tuhan.

Begitu menjumpai Paulus, Ananias berkata, "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Bukalah matamu dan melihatlah!"

Maka, Paulus bisa melihat lagi. Lantas Ananias berkata bahwa Paulus telah dipilih oleh Allah untuk mewartakan ajaran Yesus. Ananias lalu berkata, " Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"

Sejak pembaptisan itu, kehidupan Paulus berubah. Dia menjadi pengikut ajaran Yesus yang taat sekaligus berperan menyebarkan ajarannya ke Roma. Dari Roma, ajaran Yesus kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Hartman yang juga salah satu pendiri Planetary Science Institute mengungkapkan, cerita dalam Kisah Para Rasul tersebut sebenarnya bisa diuraikan secara ilmiah. Apa yang dilihat dan didengar oleh Paulus dalam perjalanannya ke Damaskus mungkin bukan keajaiban.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorYunanto Wiji Utomo
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X