Kompas.com - 18/10/2014, 09:30 WIB
Gambar cadas yang ditemukan di Misool, Raja Ampat, Papua Barat. Gambar cadas ini pertama kali ditemukan oleh para penyelam yang kemudian memberi informasi pada peneliti Perancis bernama Jean-Michel Chazine. Gambar cadas merupakan figur hewan laut, mulai hiu, tuna, hingga lumba-lumba. Jean-Michel ChazineGambar cadas yang ditemukan di Misool, Raja Ampat, Papua Barat. Gambar cadas ini pertama kali ditemukan oleh para penyelam yang kemudian memberi informasi pada peneliti Perancis bernama Jean-Michel Chazine. Gambar cadas merupakan figur hewan laut, mulai hiu, tuna, hingga lumba-lumba.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Manusia masa kini banyak mengadopsi, mengadaptasi, dan terinspirasi oleh gagasan manusia masa lampau. Itu terungkap dalam obrolan Kompas.com bersama Pindi Setiawan, pakar gambar cadas dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pindi, yang mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual, mengatakan, komunikasi visual masa kini terinspirasi dari gambar cadas, seperti stensil tangan berusia 39.900 tahun yang baru saja ditemukan di Maros, Sulawesi. Desainer masa kini harus belajar dari nenek moyang tentang komunikasi visual yang efektif.

Berikut obrolan Kompas.com bersama Pindi pada Selasa (14/10/2014). Pindi ditemui Kompas.com di sela kegiatannya mengurus revitalisasi Kota Tua Jakarta.

Bagaimana masyarakat umumnya merespons temuan gambar-gambar cadas?

Kalau di daerah-daerah di negara lain, gambar cadas sudah jadi kebanggaan. Kalau di Australia, mereka sudah mulai memindahkan gambar-gambar cadas itu ke media lain, 20-30 tahun lagi, mungkin bakal berpindah ke media komputer. Tapi, kalau daerah baru kayak Indonesia, kita memang masih harus mulai menumbuhkan.
 
Sekarang kita masih sampai sebatas anggapan bahwa seni masa lalu mendukung moda ekonomi. Borobudur saja sampai sekarang masih harus kita usahakan, seperti Borobudur dibuat miniaturnya, tetapi asal-asalan. Ukuran tidak diperhatikan.

Harus ada agen-agennya yang membantu. Kemarin sempat ada dari ISI (Institut Seni Indonesia) masuk dan memberi pelatihan pada perajin (Borobudur). Baru mulai benar. Nah memang harus ada agen-agen seperti ini.

Selain perlu agen, adakah kendala lainnya?

Di Indonesia masalahnya orang-orang yang tinggal di tempat yang ada gambar cadas itu
tidak merasa itu miliknya.
 
Dari kacamata Anda sebagai orang yang berkecimpung dalam desain komunikasi visual, bagaimana gambar cadas ini menginspirasi desain?
 
Kalau saya menggunakan ilmu gambar cadas terkait sign age. Dalam komunikasi visual kita kenal sign system dan sign age. Kalau sign system, itu kan sangat visual. Kalau sign age, itu sangat raga-rasa.
 
Contoh, kita mau menunjukkan jalan untuk keluar, kita lalu beri tanda dengan tulisan "EXIT". Itu sign system. Kalau sign age, untuk jalan keluar, tinggal diberi penerangan saja, orang akan tahu itu jalan keluar.
 
Sign age itu menggunakan stimulus indrawi. Kita ingin memamerkan lukisan. Bagaimana caranya agar orang melihat? Kita sejukkan saja tempat lukisan itu dipajang. Orang akan ke sana. Kalau kita mau ajak orang jalannya lebih cepat, jalannya bisa dimiringkan.
 
Jadi, dalam konteks sign age, bagaimana sebuah gambar ditempatkan. Ini sangat bermanfaat dalam konteks komunikasi visual pada orang yang belum mengenal tulisan. Aplikasinya banyak.
 
Misalnya?

Kita menaruh billboard. Bagaimana harus menyampaikan informasi di jalan tol. Billboard-nya jangan di depan, tapi di samping. Informasi harus bisa disampaikan dalam waktu 3 detik. Makanya, gambarnya harus jelas dan beda.
 
Contoh lain, bagaimana agar orang menghindari zona bahaya. Kita bisa tinggal redupkan saja. Lihat saja, kalau ada pohon beringin di depannya, orang cenderung tidak melewati itu, menganggap bahwa pohon beringin itu seram.
 
Nah di situ. Seperti kita bisa memahami cerita pada relief Candi Borobudur walaupun tidak ada teks-nya. Manfaatnya kita bisa membuat media komunikasi visual yang efektif. Ini yang sebenarnya jago kan manusia prasejarah.
 
Bagaimana Anda menilai komunikasi visual saat ini?

Keahlian saya sebenarnya adalah komunikasi visual pada masyarakat yang belum mengerti tulisan. Kegelisahan saya dari dulu, kok banyak ternyata logo-logo atau gambar yang tidak dimengerti orang.
 
Contohnya KB. saya pernah dapat cerita, di Bandung, ada ibu-ibu yang minta berhenti program KB. Alasannya karena ingin punya anak keempat. Dia mengaku belum punya anak cewek. Kan di gambar KB itu ada anak cowok dan cewek. Dia merasa harus punya (anak) cewek.
 
Lalu, di Afrika, yang pernah saya pelajari, terkait malaria. Di sana kan banyak malaria. Untuk beri tahu bahaya malaria, lalu ada poster dengan gambar nyamuk. tapi saat dipasang, orang berkomentar tidak ada nyamuk yang sebesar di gambar. Ini desainernya yang salah.
 
Saya juga pernah pelajari bagaimana komunitas nelayan mengalihkan informasi pada generasi muda walaupun tidak mengenal tulisan. Ternyata mereka bisa. Ini yang harus kita pelajari sekarang.
 
Gambar cadas juga bisa memberi pelajaran. Karena, kalau saya mengamati, kan tidak hanya berhenti pada gambar, tetapi juga pada bagaimana gambar itu ditempatkan pada panel di goa dan bagaimana goa dalam satu lanskap.
 
Usia gambar tangan di Maros terungkap lewat hasil kerja sama riset antara Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Balai Peninggalan Cagar Budaya Makassar, Universitas Wollongong, serta Universitas Griffith di Australia sepanjang tahun 2011-2013.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fenomena
Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Oh Begitu
5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Oh Begitu
Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

Kita
Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Oh Begitu
Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Oh Begitu
Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Kita
Usai Foto Selfie Ghozali, Ramai Jual NFT Foto KTP dan Tubuh Tanpa Busana, Ini Kata Psikolog Sosial

Usai Foto Selfie Ghozali, Ramai Jual NFT Foto KTP dan Tubuh Tanpa Busana, Ini Kata Psikolog Sosial

Oh Begitu
Laporan Awal Sebut Vaksin Dosis Keempat di Israel Kurang Ampuh Tangkal Omicron

Laporan Awal Sebut Vaksin Dosis Keempat di Israel Kurang Ampuh Tangkal Omicron

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.