Kompas.com - 18/03/2014, 01:32 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

WASHINGTON, KOMPAS.com — Ilmuwan Amerika Serikat, Senin (17/3/2014), mengklaim untuk pertama kalinya mendeteksi getaran gelombang gravitasi setelah Big Bang, awal dari kelahiran semesta. Temuan ini pun disebut mengonfirmasi bagian terakhir teori relativitas umum Albert Eisntein.

Gelombang tersebut merupakan bukti dari ledakan yang kemudian tumbuh dengan cepat selama 14 miliar tahun terakhir sekaligus menjadi elemen yang ditunggu-tunggu untuk membuktikan bagian terakhir Einstein yang telah berusia hampir seabad tersebut.

"Ini adalah bukti langsung pertama tentang inflasi kosmik," ujar pernyataan pakar dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian. Temuan ini merupakan hasil dari pengukuran cahaya tertua di alam semesta yang proses penelitiannya mendapat bantuan dari sebuah teleskop yang berlokasi di Kutub Selatan.

Hasil dari penelitian ini disebut bakal menjadi kandidat kuat penerima Nobel Fisika berikutnya. Temuan tersebut berupa gelombang yang bergerak melalui ruang dan waktu, oleh para pakar disebut sebagai "getaran pertama dari Big Bang".

Deteksi gelombang ini mengonfirmasi koneksi integral antara teori relativitas umum Einstein dan konsep mekanika kuantum. "Mendeteksi sinyal ini adalah salah satu tujuan paling penting dalam kosmologi saat ini," kata John Kovac, koordinator pakar di lembaga riset astrofisika tersebut.

Menurut Kovac, teleskop di Kutub Selatan merupakan lokasi yang bisa ditemukan di bumi yang paling dekat posisinya dengan ruang angkasa. "Dan masih melekat di tanah," tegas dia. Kovac mengatakan, lokasi teleskop itu adalah salah satu yang paling kering dan bersih di bumi, sempurna untuk mengamati gelombang mikro samar jejak Big Bang.

Lubang di selatan

Teleskop tersebut mengamati area khusus di langit yang dikenal sebagai "lubang di selatan", di luar galaksi Bimasakti. Di sana ada sedikit debu atau kelebihan material dasar galaksi yang dapat digunakan untuk "mengintip" angkasa menggunakan peralatan canggih.

Dengan mengamati gelombang mikro kosmik alias cahaya samar yang tersisa dari Big Bang ini, sebuah fluktuasi kecil akan menjadi petunjuk baru untuk para ilmuwan tentang kondisi pada saat awal semesta.

Gelombang gravitasi merambat melalui semesta, 380.000 tahun setelah Big Bang. Gambar gelombang ini tertangkap oleh teleskop di Kutub Selatan. "Ini memang sesuatu yang sulit dipahami, sesuatu yang seperti ini dan benar-benar ditemukan," tutur Clem Pryke, profesor University of Minnesota, saat mengumumkan temuan ini di Boston.

Rumor soal temuan tersebut mulai beredar sejak Jumat (14/3/2014). Para ilmuwan mengatakan mereka telah menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk menganalisis temuan mereka sekaligus menepis kemungkinan kesalahan. "Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami tapi kami (malah) menemukan linggis," ujar Pryke memberikan analogi.

Pakar dari Harvard, Avi Loeb, mengatakan, temuan tersebut memberikan informasi baru untuk beberapa pertanyaan mendasar manusia. "(Seperti), mengapa kita ada? Bagaimana alam semesta bermula?" sebut dia. "Temuan ini tak hanya membuktikan soal inflasi (kosmik) tetapi juga memberi tahu kita waktu terjadinya inflasi itu dan kekuatan proses inflasi tersebut," imbuh Loeb.

Sementara itu, fisikawan teori Alan Guth yang memunculkan gagasan soal inflasi tersebut pada 1980 menggambarkan temuan ini layak mendapatkan Nobel Fisika. "Ini benar-benar baru, sepotong bukti kosmologi yang cocok menggambarkan inflasi (kosmik) itu," ujar pakar dari Massachusetts Institute of Technology tersebut, sebagaimana dikutip jurnal Nature .

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

Fenomena
Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

Kita
Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

Oh Begitu
Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

Fenomena
BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

Fenomena
Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

Fenomena
Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

Oh Begitu
Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Kita
Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Kita
Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Kita
Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Oh Begitu
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.