Kompas.com - 04/11/2013, 13:02 WIB
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam oleh kamera jebakan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, 1 November 2012. CIFORMacan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam oleh kamera jebakan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, 1 November 2012.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Dulu macan tutul jawa (Panthera pardus melas) dianggap simbol kemakmuran. Keberadaannya membuat sawah masyarakat bebas hama babi hutan. Kini, nasibnya seperti pesakitan. Terkurung di Pulau Jawa, masa depannya suram di ambang kepunahan.

Sorot kedua matanya tajam mengamati siapa saja yang mendekat. Di dalam kandang besi berukuran 2 meter x 1,5 meter, ia tidak mengubah posisi siaga, mengeram dengan posisi tubuhnya merunduk. Hanya sesekali ia memamerkan gigi taring tumpul termakan usia.

Berbeda dengan saudara-saudaranya, macan tutul ini sangat tenang. Hanya beberapa kali ia menubrukkan badan dan kepala besarnya mencoba menerobos kandang. Tinggal hanya 100 meter dari jalan setapak membuatnya terbiasa melihat manusia.

Itulah Jampang, macan tutul jawa yang baru ditangkap di hutan gundul Cijengkol, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jampang tidak diterima warga setempat. Ia dibenci karena sebagai pelaku pencurian sapi, kambing, hingga anjing milik warga setempat.

”Warga di sini menamakannya Selang. Nama itu diberikan sebagai rasa hormat dan takut. Sekarang karena terlalu sering memakan hewan peliharaan, Selang tidak diinginkan,” kata Peni, warga Girimukti.

Bersaing hidup di lahan tandus membuat hubungan baik itu kini renggang. Jangankan macan tutul, manusia saja sulit hidup di tempat seperti itu. Meski belum ada laporan macan tutul jawa menyerang manusia, warga khawatir sapi dan kambing yang jadi sumber penghasilan utama habis digondol macan.

”Kami ingin empat macan tutul yang masih tersisa dibawa pergi dari sini. Kalau semua sapi dan kambing habis, kami khawatir manusia dimangsa juga,” ujar Suryana, petani Girimukti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Konflik macan tutul jawa dan manusia di Jawa Barat seperti mewakili ironi lingkungan tidak berkesudahan. Meski ditetapkan sebagai lambang Jawa Barat, habitat macan tutul jawa di Jabar diperkirakan mayoritas hancur berantakan. Bahkan, jumlahnya tidak lebih dari 200 ekor.

Ardiansyah/KOMPAS/IWN/BIP Informasi macan tutul Jawa

Konflik dengan manusia

Data Walhi Jabar tahun 2010-2011 menyebutkan, hutan di Jabar tidak lebih dari 816.603 hektar. Jumlah itu hanya sekitar 18,2 persen dari total luas wilayah Jabar sekitar 4,4 juta hektar. Keadaan itu membuat konflik manusia dan satwa liar sangat mudah terjadi.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.