Kompas.com - 01/11/2013, 21:22 WIB
Perahu warga melintas di hamparan hutan mangrove yang sudah mulai rusak di kawasan laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (17/4/2013). Kerusakan terlihat dari dominasi vegetasi pohon nipah (Nypa fruticans) yang mendesak ekosistem mangrove yang tersisa. Kerusakan dipicu perubahan lingkungan dari payau menjadi daratan akibat sedimentasi. Kerusakan hutan mangrove di kawasan Laguna Segara Anakan semakin meluas. Jika pada 2011, dari 8.495 hektar mangrove yang tersisa, sekitar 4.000 hektar di antaranya rusak, kini areal kerusakannya meluas menjadi 6.000 hektar. 
KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSOPerahu warga melintas di hamparan hutan mangrove yang sudah mulai rusak di kawasan laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (17/4/2013). Kerusakan terlihat dari dominasi vegetasi pohon nipah (Nypa fruticans) yang mendesak ekosistem mangrove yang tersisa. Kerusakan dipicu perubahan lingkungan dari payau menjadi daratan akibat sedimentasi. Kerusakan hutan mangrove di kawasan Laguna Segara Anakan semakin meluas. Jika pada 2011, dari 8.495 hektar mangrove yang tersisa, sekitar 4.000 hektar di antaranya rusak, kini areal kerusakannya meluas menjadi 6.000 hektar.
EditorYunanto Wiji Utomo

Oleh Adhitya Ramadhan

KOMPAS.com - Mangrove tidak hanya memiliki fungsi ekologi, tetapi juga ekonomi. Ketika di berbagai daerah perhatian masyarakat terhadap kondisi kawasan mangrove meningkat, di Bengkulu justru jalan di tempat. Padahal, kawasan mangrove di Bengkulu sangat mudah diakses dan berpotensi dikembangkan menjadi daerah wisata.

Ibarat pepatah, semut di seberang lautan terlihat jelas, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Itulah kondisi kawasan mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai di Kota Bengkulu.

Walaupun berada dekat dengan pusat kota dan mudah diakses, tidak membuat pemangku kepentingan menaruh perhatian serius pada mangrove. Bahkan, mungkin belum banyak juga pengambil kebijakan di daerah yang mengetahui bahwa ada mangrove di Kota Bengkulu.

Padahal, ancaman terhadap kelestarian mangrove di TWA Pantai Panjang selalu ada. Posisinya yang berada di kota dan mudah dijangkau, sering kali justru menambah rentan habitat mangrove. Dan jika dibiarkan, kawasan mangrove yang sudah banyak beralih fungsi jadi kolam dan kebun sawit itu niscaya akan habis.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Mugiharto mengatakan, dari tahun ke tahun luas areal mangrove di TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai terus turun. Daerah yang dahulu ditumbuhi mangrove kini telah berubah fungsi menjadi kolam atau kebun kelapa sawit. Nelayan juga sering menebang batang mangrove untuk membuat pondok di sektiar pantai atau perahu.

”Sebelum tahun 2000-an ada permintaan kayu mangrove yang banyak untuk arang. Ini juga yang menyebabkan penebangan mangrove marak saat itu,” kata Mugiharto.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di tahun 2002, areal mangrove di TWA Pantai Panjang yang masuk dalam wilayah Kelurahan Sumber Jaya, Teluk Sepang, dan Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu, seluas 1.000 hektar. Di tahun 2007, luas itu berkurang menjadi 535 hektar.

Di antara berbagai jenis mangrove yang ada di TWA itu, Avicennia marina dan Sonneratia alba menjadi jenis mangrove yang paling rusak. Penyebabnya ialah posisi kedua jenis mangrove ini paling dekat dengan permukiman penduduk sehingga mudah dijangkau.

Bermula dari kepedulian terhadap kawasan mangrove yang kian menyusut itulah, sejumlah anak muda membentuk Komunitas Mangrove Bengkulu. Mereka berkomitmen untuk menanami mangrove di daerah pasang surut TWA Pantai Panjang. Difasilitasi oleh BKSDA Resor Kota Bengkulu, komunitas yang beranggotakan sekitar 20 orang itu berencana menanami lahan pasang surut seluas lebih kurang 5,8 hektar di TWA Pantai Panjang dan 3 hektar di Kelurahan Pondok Besi, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.