Kompas.com - 04/09/2013, 13:24 WIB
Hemiscyllum halmahera Mark Erdmann/CIHemiscyllum halmahera
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Conservation International (CI) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengumumkan penemuan hiu "berjalan" baru di Halmahera. Berbeda dengan hiu lain yang dikenal buas, hiu "berjalan" jinak dan menghabiskan sebagian besar hidupnya merangkak di permukaan karang dengan bantuan siripnya.

Bukan cuma perbedaan karakteristik dan eksotisme yang membuat penemuan hiu "berkalan" dengan nama spesies Hemiscyllium halmahera itu istimewa. Penemuan itu juga mengungkap kesamaan distribusi antara hiu "berjalan" dan burung cendrawasih alias si burung surga.

Burung cendrawasih diketahui hanya dapat ditemukan di wilayah Australia, Papua, Papua Niugini, dan wilayah Maluku. Indonesia adalah surga bagi burung surga. Dari 39 spesies burung cendrawasih yang tersebar di wilayah tersebut, sebagian besar terdapat di Indonesia.

Burung cendrawasih yang dapat ditemui di Halmahera adalah Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii), burung cendrawasih yang berukuran sekitar 28 cm dan berwarna coklat zaitun. Ini adalah burung endemis kepulauan Maluku.

Sementara itu, hiu "berjalan" semula diduga hanya ditemukan di perairan Australia bagian utara, Papua Niugini, dan Papua. Total, ada 9 spesies hiu "berjalan" yang sudah ditemukan hingga kini. Dari jumlah tersebut, 6 spesies terdapat di perairan Indonesia. Jadi, Indonesia juga surga bagi hiu ini.

Hiu "berjalan" yang pertama ditemukan adalah H ocellatum di Australia. Sementara itu, dalam satu dekade terakhir sebelum temuan hiu "berjalan" Halmahera, ditemukan tiga spesies hiu "berjalan" baru, di Kaimana (H henryi) dan Cendrawasih (H galei) tahun 2008 dan Papua Niugini (H michaeli) tahun 2010.

Temuan H halmahera mengungkap bahwa persebaran hiu "berjalan" lebih luas dari yang diduga. Bukan hanya di Papua, melainkan tersebar 300 kilometer lebih ke barat. Sejauh ini, hanya spesies H halmahera yang ditemukan di Halmahera.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Journal of Ichtyology Penyebaran hiu genus Hemiscyllium. H freycineti (lingkaran kuning), H galei (tanda bintang putih), H henryi (tanda bintang kuning), H hallstromi (kotak putih), H halmahera (lingkaran hijau), H strahani (kotak merah), dan H michaeli (lingkaran merah).

Pertanyaannya kemudian, mengapa penyebaran burung cendrawasih yang hidup di daratan bisa sama dengan penyebaran hiu "berjalan" yang hidup di lautan? Untuk menjelaskannya, perlu penelitian lebih lanjut. Namun, kesamaan tersebut diduga terkait sejarah geologi Halmahera.

Mark Erdmann dalam publikasi penemuan H halmahera di Journal of Ichtyology pada Juli lalu mengungkapkan bahwa ada teori yang menyebutkan jika fragmen wilayah Halmahera dahulu terletak berdekatan dengan Papua.

Namun, pada masa Miocene dan Pleistocene, fragmen itu bergerak menjauh ke barat, mencapai wilayahnya kini pada beberapa juta tahun lalu. Pergerakan ini yang memengaruhi persebaran burung cendrawasih dan hiu "berjalan".

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.