Kompas.com - 22/08/2013, 16:02 WIB
Sumatera courses.washington.eduSumatera
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Konsep pembentukan Pulau Sumatera yang selama ini diyakini oleh para ahli ternyata salah. Prof Dr Iskandar Zulkarnain, profesor riset LIPI yang dikukuhkan pada Rabu (21/8/2013), memaparkan hal tesebut dalam orasi berjudul "Geokimia Batuan sebagai Jendela Proses Geologi Masa Lalu dan Lentera Pemandu Penemuan Endapan Logam."

Semula, diyakini bahwa dalam proses pembentukannya, blok Sibumasu dan blok Sumatera bagian barat, yang keduanya bersifat kontinen (benua), bertabrakan sehingga membentuk Patahan Sumatera yang membentang sepanjang bagian utara hingga selatan Pulau Sumatera. Karena sifat kedua blok pembentuk Sumatera sama-sama kontinen, maka seluruh Pulau Sumatera dianggap sebagai tepian dari benua Eurasia yang bersifat homogen.

Sementara itu, diyakini pula tumbukan antara lempeng samudra (lempeng Hindia-Australia) dan lempeng daratan Eurasia (termasuk Sumatera) telah menimbulkan subduksi (penunjaman) di lautan yang sejajar dengan pulau-pulau kecil di barat Sumatera.

Dalam penelitian geokimia batuan yang telah dimulai dari tahun 1994, Iskandar menemukan fakta lain tentang sejarah pembentukan geologi Pulau Sumatera. Patahan Sumatera ternyata terbentuk melalui sebuah sistem kompleks yang tidak hanya melibatkan dua blok kontinen, tetapi juga lempengan samudra.

Iskandar dan timnya mengumpulkan batuan vulkanik dari banyak daerah di sekitar Patahan Sumatera, mulai dari Provinsi Lampung hingga Kabupaten Madina, Provinsi Sumatera Utara. Mereka menganalisis batuan-batuan tersebut tidak hanya berdasarkan unsur-unsur utama (major elements), tetapi juga mencakup unsur jejak (trace elements) dan unsur jarang (rare earth elements).

Berdasarkan pola yang terbentuk dari analisis konsentrasi kandungan elemen mikro dan elemen jarang, Iskandar menyimpulkan jika sejarah geologi Sumatera yang diyakini selama ini salah dan harus diubah.

"Sumatera dibentuk oleh dua buah segmen yang berbeda karakter. Sebelah barat berkarakter busur kepulauan, yakni karakter yang terbentuk karena tabrakan samudra dengan samudra, sedangkan sebelah timur bersifat kontinen (benua)," ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Iskandar menambahkan jika pada masa purba, terjadi tabrakan antar-samudra yang membentuk subduksi pada Patahan Sumatera. Tabrakan ini mendorong patahan Sumatera bergerak ke timur dan bertabrakan lagi dengan benua Eurasia yang akhirnya membentuk subduksi pada kepulauan di barat Sumatera.

Kondisi ini dapat menjawab berbagai pertanyaan mengenai bencana alam yang sering kali terjadi di kawasan Patahan Sumatera. "Sejauh ini wilayah timur Sumatera lebih aman daripada yang barat. Jika di sebelah barat terdapat penujaman purba, maka wilayah ini relatif menjadi mudah bergerak karena dia sebenarnya tidak homogen," tambah Iskandar.

Riset geokimia batuan yang mengubah sejarah geologi Sumatera ini juga menimbulkan konsekuensi logis mengenai potensi mineral di Pulau Sumatera. Mineral yang selama ini terkonsentrasi di sebelah barat mungkin saja juga terkandung di lapisan tanah pada bagian timur.

Riset ini juga dapat membuat proses pencarian endapan logam menjadi lebih efektif karena adanya rantai proses yang dipangkas dan biaya yang menjadi lebih rendah.

Iskandar menyatakan, geokimia batuan memungkinkan manusia menemukan endapan logam hanya dengan menggunakan sistem sampling tanpa perlu melakukan eksplorasi detail terlebih dahulu.

Jika hasil analisis menunjukkan adanya potensi logam pada tempat ditemukannya batuan tersebut, maka eksplorasi dapat dilanjutkan. Sebaliknya, jika ternyata wilayah itu tidak berpotensi, maka lokasi tersebut dapat ditinggalkan untuk menemukan lokasi lain yang lebih berpotensi. (Dyah Arum Narwastu)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Oh Begitu
Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.