Kompas.com - 30/07/2013, 23:31 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Selama ini, pemahaman kita akan asal mula alam semesta telah didasarkan pada konsep bahwa alam semesta lahir melalui sebuah proses "dentuman besar" pada suatu ketika di masa lampau.

Tetapi, apakah benar demikian adanya? Sains selalu didasarkan pada justifikasi yang didasarkan fakta pengamatan. Akan tetapi, untuk mendapatkan justifikasi itu, sains selalu terbuka akan interpretasi yang bisa berbeda sama sekali.

Sebagaimana yang telah dipahami saat ini, bagaimana astronomi menjelaskan tentang alam semesta diperoleh dari cahaya yang dipancarkan/diserap dari atom-atom dari benda-benda langit, yang ditampilkan dalam warna, atau frekuensi, secara populer disebut sebagai pergeseran merah.

Apabila ada materi yang bergerak menjauh, dari Prinsip Doppler, warnanya akan cenderung menjadi lebih merah atau frekuensi yang lebih rendah dari spektrum elektromagnetik.

Prinsip dasar ini yang dipergunakan oleh para perintis teori "dentuman besar", seperti Georges Lemaitre yang merumuskan matematikanya, sementara Edwin Hubble mengamati bahwa memang galaksi-galaksi mengalami pergeseran merah, semakin jauh galaksinya, semakin mengalami pemerahan spektrumnya.

Dari hal tersebut dideduksikan bahwa alam semesta mengalami pengembangan sebagaimana yang telah kita terima saat ini.

Bagaimana jika alih-alih alam semesta mengembang—sebagaimana yang telah kita terima saat ini tidak terjadi, tetapi massa semua yang ada di alam semesta mengalami peningkatan?

Interpretasi seperti itu dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik pada permasalahan yang dihadapi oleh Kosmologi saat ini. Walaupun masih perlu dukungan bukit yang dapat diamati dari teori tersebut, tetapi teori yang disampaikan oleh Christof Wetterich, ahli fisika teoritis dari Universitas Heidelberg, tampaknya cukup menarik perhatian karena teori fisikanya cukup sahih.

Sebagaimana yang telah diutarakan, bahwa cahaya itu adalah hasil interaksi atom-atom penyusun materi, hal ini dipergunakan oleh Wetterich untuk menyusun teorinya. Karakteristik cahaya yang dipancarkan atom juga dipengaruhi massa, serta juga denan elektron-elektron dalam atom tersebut.

Bayangkan apabila atom mengalami peningkatan massa, maka foton yang dipancarkan menjadi lebih berenergi dan karena energi berkorespondensi dengan frekuensi, semakin besar massa, semakin mengalami pergeseran ke biru dari spektrum yang teramati, dibandingkan dari keadaan yang sebelumnya telah diketahui, yaitu sebelum massa meningkat, demikian juga sebaliknya.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.