Letusan Gunung Toba, Benarkah Picu Musim Dingin Ekstrem di Afrika? - Kompas.com

Letusan Gunung Toba, Benarkah Picu Musim Dingin Ekstrem di Afrika?

Kompas.com - 12/02/2018, 20:15 WIB
ilustrasi gunung berapibbc.com ilustrasi gunung berapi

KOMPAS.com - Salah satu dampak letusan gunung berapi yang mematikan dalam sejarah adalah letusan Gunung Purba Toba. Penelitian-penelitian menganalisis bahwa letusan yang terjadi 74.000 tahun yang lalu itu berimbas ke seantero planet.

Letusan menyebarkan abu yang menimbulkan partikel asam belerang serta mendinginkan samudera. Efeknya terjadi kegelapan total selama 6 tahun serta penuruan suhu selama ribuan tahun. Vulkanolog menyebut peristiwa ini nyaris memusnahkan kehidupan di Bumi.

Berdasarkan hipotesis, salah satu wilayah yang terdampak adalah Afrika Timur, di mana area tersebut ikut merasakan musim dingin vulkanik berkepanjangan atau musim dingin yang terjadi akibat letusan gunung berapi serta menyebabkan turunnya populasi secara drastis.

Tapi Peneliti Univeristas Arizona punya pendapat lain soal ini. Letusan gunung berapi Toba ternyata tidak menimbulkan dampak ekstrem di seluruh belahan dunia seperti perkiraan para peneliti sebelumnya.

Baca juga : Pendaki Dengar Suara Misterius di Gunung Everest, dari Mana Asalnya?

Kesimpulan ini diambil berdasarkan studi mereka dengan menggunakan bagian tanaman purba yang terhanyut serta mengendap di dasar danau selama bertahun-tahun untuk merekontruksi masa lalu suatu kawasan.

Seandainya daerah tersebut mengalami pendinginan bertahun-tahun pasca meletusnya Toba, inti sedimen akan menunjukkan bukti adanya kematian vegetasi besar-besaran di wilayah ini pada semua ketinggian.

Namun tim justru tidak menemukan tanda-tanda perubahan pada vegetasi dataran rendah pasca letusan tersebut.

Proyek Pengeboran Danau Malawi untuk mengambil inti sedimen dari dasar sungai dilakukan pada tahun 2005 yang lalu.

Dari situ tim kemudian menganalisis sampel yang mewakili setiap 8,5 tahun dalam interval 300 tahun.

Baca juga : Ilmuwan Prediksi Letusan Besar Gunung Api Terjadi 17.000 Tahun Sekali

Chad L. Yost, salah satu peneliti kemudian mempelajari potongan mikroskopis tanaman yang terawetkan di dalam inti dua sedimen di danau Malawi, danau yang terletak paling selatan di Afrika Timur.

Ia menganalisis sampel arang dan bagian tanaman mengandung silika yang disebut phytoliths.

"Ini adalah penelitian pertama yang memberikan bukti langsung mengenai dampak letusan Toba pada vegetasi, baik sebelum dan sesaat setelah letusan tersebut," katanya.

Jika hipotesis bencana Toba benar, harusnya akan semakin banyak arang yang hanyut ke danau akibat vegetasi yang terbakar. Namun ia tidak menemukan peningkatan arang di luar angka normal pada sedimen yang diendapkan setelah letusan.

"Ini mengejutkan karena hasilnya tidak terjadi pendinginan yang parah padahal letusan Toba sangat luar biasa hebat," tambahnya.

"Kami menemukan bahwa letusan Toba tidak memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan vegetasi di Afrika Timur," katanya menyimpulkan.

Makalah ini telah diterbitkan online di Journal of Human Evolution.

Baca juga : Pemicu Letusan Toba 74.000 Tahun Lalu Terungkap



Komentar
Close Ads X