Takut Hidup Sendiri Usai Putus Cinta? Ini Yang Terjadi Menurut Sains - Kompas.com

Takut Hidup Sendiri Usai Putus Cinta? Ini Yang Terjadi Menurut Sains

Kompas.com - 08/02/2018, 19:30 WIB
IlustrasiSHUTTERSTOCK Ilustrasi

KOMPAS.com - Saat Anda mulai merasa takut untuk hidup sendiri setelah putus dengan kekasih Anda, waspadai gejala "anuptaphobia" atau rasa takut hidup melajang.

Sebuah makalah yang terbit tahun 2013 di Journal of Pesonality and Social Psychology, Stephanie Spielmann menjelaskan bahwa rasa takut hidup sendiri akan menguat setelah putus dengan pasangan.

Rasa takut itu merupakan tanda bahwa hubungan yang Anda miliki tidak sehat, kata Asisten profesor Fakultas Psikologi di Universitas Negeri Wayne di Detroit tersebut.  

Baca Juga: Cinta Pandangan Pertama, Benar Ada atau Hanya Birahi Belaka?

Spielmann meneliti sejumlah orang dewasa di Amerika Utara dan Kanada yang rata-rata berusia 30 tahun, berasal dari kalangan sarjana, dan masyarakat umum.

Hasil surveinya cukup mengejutkan. "Saat perasaan takut hidup melajang menguat dan tidak terkontrol, besar kemungkinan seseorang akan rela menjalani hubungan kembali, meskipun tidak ada lagi rasa cinta terhadap pasangannya," kata Spielmann.

"Sekarang kita mengerti bahwa kecemasan seseorang menjadi lajang tampaknya memainkan peran kunci dalam hubungan tidak sehat," tambahnya.

Tragisnya, dunia internet dengan menawarkan kencan secara online akan memperburuk kondisi seseorang yang memiliki ketakutan tersebut. 

"Bagi mereka yang rasa takutnya besar, cenderung tertarik menggunakan berbagai media atau pilihan online untuk bertemu dengan pacar baru atau melacak mantan mereka," kata Spielmann.

"Risiko yang mungkin terjadi adalah hubungan baru akan berakhir lebih buruk atau hubungan yang kualitasnya lebih rendah," katanya dikutip dari Thestar, Senin (5/2/2018).

Kondisi seseorang yang merasa takut untuk hidup sendiri tanpa pasangan selama hidupnya disebut "anupthaphobia".

Baca Juga: Apakah Cinta Selamanya Itu Benar-benar Ada?

Menurut Geoff MacDonald dari profesor di Fakultas Psikologi, Universitas Toronto, masalah psikologis tersebut bisa terjadi baik pada pria dan wanita.

"Kami menemukan bahwa pria dan wanita memiliki kekhawatiran yang sama tentang menjadi lajang dan memiliki pola menghadapi rasa itu yang serupa. Ini membantah anggapan bahwa hanya wanita saja yang takut menjadi lajang," kata Macdonald, dikutip news.artsci.utoronto.ca ,Kamis (5/12/2013). 

Spielmann menganjurkan untuk tidak terlalu takut dan cemas. Buang pikiran bahwa perempuan harus menjadi ibu rumah tangga dan tuntutan harus menikah.

"Cobalah fokus saat mengambil keputusan terbaik untuk kebahagiaan Anda sendiri," katanya.


Komentar
Close Ads X