Bagaimana Seseorang Mengambil Keputusan dalam Dilema Moral? - Kompas.com

Bagaimana Seseorang Mengambil Keputusan dalam Dilema Moral?

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 12/01/2018, 21:12 WIB
Seorang pengungsi Rohingya menahan bayinya di pusat pendaftaran setelah dia melintasi perbatasan dari Myanmar, di Teknaf, Bangladesh pada 2 Oktober 2017. Myanmar telah mengusulkan untuk membawa kembali ratusan ribu orang Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir. Seorang pengungsi Rohingya menahan bayinya di pusat pendaftaran setelah dia melintasi perbatasan dari Myanmar, di Teknaf, Bangladesh pada 2 Oktober 2017. Myanmar telah mengusulkan untuk membawa kembali ratusan ribu orang Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir.


KOMPAS.com – Saat seseorang mengambil sebuah keputusan, biasanya yang jadi pertimbangan adalah akibat yang akan ditimbulkan. Tak hanya itu, pertimbangan moral juga turut berperan.

Pertimbangan moral merupakan keadaan yang sulit, bisa jadi setelah keputusan diambil muncul perdebatan dari banyak pihak.

Misalnya, dalam situasi perang dengan tentara musuh yang terkenal kejam, sekelompok warga sipil bersembunyi agar tak terbunuh. Bayangkan di dalam ruangan ada seorang ibu membawa bayi yang sedang menangis. Di sini muncul dilema moral yang besar.

Dia harus mendekap mulut sang anak dengan konsekuensi bayinya kehilangan nafas, atau membiarkan bayinya menangis dan semua orang yang tengah bersembunyi mati terbunuh. Jika menjadi ibu tersebut, apa yang akan Anda lakukan?

Hal seperti itu sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan hal inilah yang ingin diterjemahkan oleh para ilmuwan dari Universitas California, Los Angeles (UCLA). Mereka ingin mengetahui pilihan apa yang mungkin diambil dan bagaimana aktivitas yang terjadi pada otak.

Baca juga : Dilema Jalan Kaki di Indonesia dan Dampaknya pada Kesehatan

Dr. Marco Iacoboni, seorang profesor psikiatri di UCLA bersama koleganya merekrut 19 orang dewasa, pria dan wanita berumur 18-35 tahun. Iacoboni tertarik untuk memahami cara kerja sel otak atau fungsi neuron cermin (neuron yang mencerminkan gerakan orang lain).

"Kami memeriksa aktivitas otak, saat peserta menyaksikan jarum menembus tangan orang lain versus rangsangan serupa yang tak menyakitkan," tulis Iacoboni dan koleganya di jurnal Frontiers in Integrative Neuroscience seperti dilansir Newsweek pada Rabu (10/1/2018).

Lebih dari sebulan, semua subyek penelitian dipanggil dan diberi sebuah kasus. Mereka harus memposisikan diri sebagai ibu yang membawa bayi di atas, kemudian memutuskan langkah apa yang akan diambil.

Sebelumnya, peneliti memiliki hipotesis orang-orang yang merasa ngeri saat melihat tangan orang lain ditusuk jarum (dibuktikan dengan perubahan reaksi saraf), akan cenderung menolak bahaya. Mereka memilih membuat bayi berhenti menangis. Rupanya, hipotesis itu benar.

Namun, Iacoboni dan timnya tidak menemukan hubungan antara aktivitas otak dan membahayakan seseorang di atas kepentingan publik.

Justrus sebaliknya, proses kognitif tentang keseluruhan aspek kesejahteraan berjalan dan tak melulu berfokus pada bahaya.

Baca juga : Dilema Puasa di Negara yang Mataharinya Tidak Pernah Terbenam

"Temuan ini memberi kita gambaran ke dalam sifat dasar moralitas," kata Iacoboni. "Ini adalah pertanyaan mendasar untuk memahami diri kita sendiri, dan untuk memahami bagaimana otak membentuk sifat kita sendiri."

Secara keseluruhan, temuan Iacoboni memperlihatkan bahwa manusia tak sekedar menimbang ketidaknyamanan, melainkan juga menimbang rasa sakit orang lain selama dilema moral.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorGloria Setyvani Putri
SumberNewsweek
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM