9 Mitos soal HIV, Lupakan, Jangan Sampai Terjebak Mempercayainya - Kompas.com

9 Mitos soal HIV, Lupakan, Jangan Sampai Terjebak Mempercayainya

Gloria Setyvani Putri
Kompas.com - 02/12/2017, 19:00 WIB
Aktivis membawa pita merah dalam kampanye Hari AIDS Sedunia, di Surabaya, Senin (1/12/2014). Sekitar 45.000 kasus HIV/AIDS terjadi di Indonesia sepanjang 2013 dan 14.400 kematian di tahun yang sama.AFP PHOTO / JUNI KRISWANTO Aktivis membawa pita merah dalam kampanye Hari AIDS Sedunia, di Surabaya, Senin (1/12/2014). Sekitar 45.000 kasus HIV/AIDS terjadi di Indonesia sepanjang 2013 dan 14.400 kematian di tahun yang sama.

KOMPAS.com - Jumat (1/12/2017) adalah peringatan hari AIDS sedunia. Hampir tiga dekade, kita sudah tidak asing lagi mendengar kata HIV/AIDS. Tapi benarkah kita sungguh mengerti akan penyakit ini?

Pada 2016, UNAIDS - organisasi di bawah PBB yang didedikasikan untuk melindungi korban AIDS - mencatat ada lebih dari 36,7 juta jiwa yang hidup dengan penyakit ini. Setiap tahun, selalu ada pengidab baru, tidak terkecuali dengan Indonesia.

Berdasarkan data kumulatif sejak 1 April 1987 sampai 31 Desember 2016, Kementerian Kesehatan RI mencatat ada 232.323 orang dengan HIV dan 86.780 orang di antaranya terinfeksi AIDS. Ditambah lagi, sudah ada belasan ribu orang meninggal dunia karena virus ini.

Baca Juga: Pengidap HIV Terus Meningkat, Akankah SDGs Tercapai?

Sehubungan dengan peringatan hari AIDS hari ini, sudah saatnya kita menghilangkan beberapa mitos terkait penyakit ini yang dilansir dari laman The Star Online, Jumat (1/12/2017).

1. HIV sama dengan AIDS

Mitos ini sangat melekat dalam masyarakat hampir di seluruh dunia, bahwa orang yang terinfeksi HIV pasti otomatis menderita AIDS.

Konsepnya sebenarnya sederhana. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah hasil dari Human Immunodeficiency Virus (HIV)  yang merusak sistem kekebalan tubuh sampai pada tingkat pengidap rentan terhadap infeksi oportunistik dan penyakit seperti demam, sariawan, penyakit paru-paru, infeksi jamur, dan beberapa kanker.

Singkatnya, HIV adalah penyakit menular. Sementara AIDS adalah kondisi yang berkembang jika tidak diobati. Mereka dengan HIV tidak selalu memiliki AIDS, sedangkan orang AIDS pasti mengidap HIV.

2. Orang dengan HIV terlihat sangat sakit

Masyarakat biasanya menganggap pengidap HIV adalah mereka yang memiliki sakit parah. Ini merupakan kesalahpahaman yang diyakini hampir semua orang.

Itu salah, sebab sebenarnya orang yang positif memiliki HIV juga melakukan aktivitas seperti orang sehat umumnya.

Gejala awal AIDS juga ditandai dengan penyakit yang umum. Seperti sakit tenggorokan, demam, dan nyeri pada otot.

3. Bersentuhan kulit dapat tertular HIV

Masih banyak orang yang berpikir kalau minum dari botol yang sama, berbagi peralatan makan, dan menggunakan toilet yang sama, atau bersentuhan kulit dengan pengidap HIV, otomatis akan tertular virus tersebut.

Dampaknya, banyak orang yang jadi takut dan enggan menjalin relasi dengan pengidap.

Padahal, HIV tidak dapat menyebar lewat sentuhan, air liur, atau keringat. Melainkan disebarkan lewat hubungan seksual melalui air mani, keputihan, dan darah.

4. Punya HIV berarti bisa mati muda

Banyak yang berpendapat bahwa pengidap HIV akan berujung pada kematian dini. Memang, memiliki HIV sangat berisiko pada kesehatan Anda, tapi ini bukan hukuman mati.

Kini, para ilmuwan sudah banyak yang mengembangkan obat dan teknologi kesehatan untuk melawan penyakit ini. Jika obat tersebut terus dikonsumsi dan pengidap HIV selalu menjaga pola hidup sehat, ilmuwan menjamin mereka masih memiliki peluang hidup sampai 70 persen.

5. HIV hanya menyerang orang muda

Ada mitos lain menyebut orang tua tidak akan terinfeksi virus ini. Percaya atau tidak, UNAIDS memiliki data bahwa lebih dari 4,2 juta orang dewasa di atas 50 tahun di seluruh dunia, terjangkit virus ini.

Kelompok usia dewasa kerap diabaikan dalam program pencegahan HIV/AIDS. Akibatnya, hanya sedikit yang memiliki pengetahuan tentang penyakit ini. Sebagian besar orang dewasa tidak sadar bahwa mereka terjangkit HIV.

Baca Juga: Tanaman Gandarusa Diteiti dan Ternyata Punya Zat Penghambat Virus HIV

6. HIV hanya menjangkit homoseksual

Persoalannya bukan homo atau hetero yang lebih banyak terjangkit HIV, melainkan perilaku pasangan yang melakukan hubungan seks tanpa pengaman dan kerap berganti pasangan.

7. Wanita dengan HIV, kehamilannya tidak sehat

Agar janin yang dikandung tetap sehat dan terhindar dari HIV yang diderita ibu, saat ini sudah ada terapi anti retroviral (intevensi ARV) yang berfungsi untuk memperlambat pertumbuhan virus.

Untuk menyelamatkan bayi, prosesnya tidak mudah dan ada beberapa syaratnya. Antara lain, harus dilakukan sejak perencanaan hamil, ibu memulai terapi zidovudine atau AZT, melakukan terapi ARV, dan saat kelahiran melalui proses caesar dan tidak boleh menyusui bayi.

8. Tidak apa-apa berhubungan tanpa kondom, jika pasangan sudah terjangkit HIV/AIDS

Meski tidak ada risiko orang lain tertular, akan tetapi berhubungan badan tanpa pengaman dapat meningkatkan penyakit menular seksual (PMS) yang lain. Seperti Hepatitis B atau sifilis. Virus HIV dapat menghancurkan sel CD4 yang berfungsi untuk mencegah PMS.

9. HIV hanya menular lewat seks

Perlu diketahui bahwa HIV tidak hanya ditularkan lewat seks. Jarum suntik yang tidak steril pun dapat membuat orang terinfeksi penyakit ini.

Pandemi HIV/AIDS memang tidak mudah untuk diperangi. Berbagai penelitian masih mengupayakan menemukan obat yang ampuh melawannya.

Namun, anggapan masyarakat tentang penyakit ini juga berkontribusi untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS di seluruh dunia. Lewat pengetahuan ini diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman tentang penyakit ini.

Baca Juga : Kasus Langka, Seorang Anak Bisa Kontrol HIV dalam Tubuhnya Tanpa Obat

PenulisGloria Setyvani Putri
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM