Kenangan Pahit dengan Si Mantan Bisa Dilupakan, asal Otak Punya Ini - Kompas.com

Kenangan Pahit dengan Si Mantan Bisa Dilupakan, asal Otak Punya Ini

Gloria Setyvani Putri
Kompas.com - 10/11/2017, 19:35 WIB
Manusia daat mengontrol kenangan dan pemikiran dalam otak. Manusia daat mengontrol kenangan dan pemikiran dalam otak.

KOMPAS.com -- Semua orang pasti memiliki kenangan yang sebenarnya tidak ingin diingat lagi, tetapi telah membekas di dalam otak.

Entah itu perpisahan yang pahit dengan mantan, pertengkaran dengan saudara, film horor, atau hal-hal tidak menyenangkan lainnya; ternyata otak dapat melupakannya bila memiliki gamma-Aminobutyric acid (GABA) yang cukup.

Sebenarnya, GABA merupakan sebuah neurotransmiter. Ia bertugas untuk membawa pesan atau sinyal di antara neuron, dan dapat ditemukan di seluruh sistem saraf pusat mamalia, termasuk manusia.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa GABA memainkan peran penting dalam menekan pikiran dan ingatan yang tidak diinginkan di wilayah otak yang disebut hippocampus (bagian otak besar yang terletak di lobus temporal dan berperan untuk mengingat, red).

BACA: Ketakutan Cuma Produk Otak, Kita Bisa Menghapusnya jika Mau

Dalam penelitian yang sudah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communication, Jumat (3/11/2017), cara ini disebut dapat membantu manusia untuk mengurangi pikiran yang tidak diinginkan.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Cambridge ini menyebutkan bahwa GABA juga memberi petunjuk tentang apa yang salah di dalam otak seorang penderita penyakit skizofrenia.

Seperti dilansir dari Live Science, Rabu (8/11/2017), para peneliti mengamati 24 otak orang muda yang sehat untuk mengingat kembali kenangan di masa lalu.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa peserta yang memiliki lebih banyak GABA pada hippocampus dapat lebih mengendalikan memori dan kenangan daripada mereka yang memiliki sedikit GABA.

BACA: Sains Ungkap Dampak Kurang Tidur pada Otak dan Mental

Namun, mengukur jumlah GABA dalam otak seseorang bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Peneliti harus menggunakan magnetic resonance spectroscopy (MRS) yang mahal dan sulit dioperasikan. Pasalnya, MRS dapat memindai otak dengan lebih mendetail.

Menggunakan alat ini, para peneliti tidak hanya bisa melihat bentuk dan kepadatan otak, tetapi juga mengetahui kandungan kimia yang lebih spesifik.

Setelah mengukur kadar GABA, para peneliti kemudian berfokus untuk mempelajari kemampuan subyek penelitian dalam menekan pikiran dan memori. Untuk menguji hal ini, para peneliti menggunakan permainan sederhana.

Peserta diberi remot kontrol dengan tombol. Mereka diminta menekan tombol kiri saat warna tertentu muncul di layar dan tombol kanan ketika warna lain muncul. Mereka memainkan permainan ini berulang-ulang sampai secara otomatis dapat menekan tombol tanpa berpikir lagi.

BACA: Pulang ke Bumi, Otak Astronom Berubah, Apa yang terjadi?

Setelah itu, peneliti menambah peraturan baru. Para peserta dilarang menekan tombol jika mendengar suara. Artinya, peserta harus bisa mengendalikan kebiasaan untuk tidak langsung menekan tombol saat mendengar suara yang bertepatan dengan munculnya warna.

Para peneliti berasumsi bahwa pemain yang lebih baik juga memiliki kontrol yang lebih baik terhadap impuls yang diingat.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa orang-orang dalam kelompok GABA tinggi secara signifikan lebih baik dalam memainkan remot kontrol dibanding kelompok GABA rendah. Artinya, ada hubungan yang pasti antara GABA di hippocampus dengan kemampuan menekan ingatan.

Temuan ini pun menambah pemahaman ahli saraf tentang bagaimana ingatan bekerja di otak, dan mengungkap misteri para penderita skizofrenia.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa penyakit jiwa seperti skizofrenia dapat dikaitkan dengan jumlah GABA yang rendah sehingga otak kekurangan alat kimia penekan memori dasar dan kebanjiran kenangan," ujar peneliti.

PenulisGloria Setyvani Putri
EditorResa Eka Ayu Sartika
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM