Inilah Mengapa Menguap Itu Menular - Kompas.com

Inilah Mengapa Menguap Itu Menular

Kontributor Sains, Monika Novena
Kompas.com - 02/09/2017, 21:06 WIB
Ilustrasi menguapShutterstock Ilustrasi menguap

KOMPAS.com -- Coba perhatikan, saat seseorang di dekat Anda sedang menguap, biasanya tanpa disadari Anda juga cenderung akan menguap walaupun sebelumnya tidak merasa ngantuk.

Sebenarnya, apa yang mendorong perilaku tersebut sehingga seseorang bisa ikut 'tertular' menguap?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 31 Agustus 2017 mengungkap bagaimana fenomena itu bisa terjadi. Peneliti menyebut jika perilaku tersebut muncul karena adanya aktivitas di bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi motorik.

(Baca juga: Kenapa Jam 2 Siang adalah Jam Paling "Malesin"?)

Untuk mempelajari apa yang terjadi di otak seseorang saat melihat orang lain menguap, para peneliti melakukan pengamatan terhadap 36 orang dewasa. Mereka diminta untuk menonton video orang lain yang sedang menguap. Dengan menggunakan stimuli magnetik transkranial (TMS), para peneliti lalu mengukur aktivitas otak partisipan selama percobaan.

Dalam satu percobaan, orang-orang diminta untuk mencoba dan menahan menguap saat melihat video orang yang menguap.

Pada percobaan lain, para peserta diberi instruksi yang sama, tetapi peneliti juga menambahkan arus listrik ke kulit kepala para partisipasan tersebut. Arus ini dimaksudkan untuk merangsang korteks motorik yang diperkirakan bisa mengendalikan menguap.

Selama eksperimen, peserta juga diminta untuk memperkirakan keinginan mereka untuk menguap.

Baca Juga: Ketakutan Cuma Produk Otak, Kita Bisa Menghapusnya jika Mau

Hasilnya, peneliti menemukan jika kecenderungan seseorang untuk meniru menguap ini berkaitan dengan tingkat aktivitas otak di korteks motor seseorang. Semakin banyak aktivitas di daerah tersebut, maka kecenderungan seseorang untuk menguap semakin meningkat.

Hal ini terbukti ketika arus listrik dialirkan ke daerah tersebut. Dorongan untuk menguap turut meningkat.

Selanjutnya, para peneliti juga menemukan bahwa hanya sebagian yang sukses menolak keinginan untuk menguap. Saat partisipan diminta untuk menolak menguap, dorongan untuk menguap justru naik.

"Dengan kata lain dorongan untuk menguap meningkat seiring dengan keinginan diri sendiri untuk mencoba menghentikan aktivitas menguap itu," kata Georgina Jackson, profesor neuropsikologi kognitif di Universitas of Nottingham Inggris yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip Live Science, Kamis (31/8/2017).

Peneliti juga menyebut jika perilaku menguap yang menular itu merupakan jenis echophenomenon. Dengan kata lain, itu adalah perilaku meniru orang lain secara otomatis. Echophenomena sendiri ada bermacam jenisnya, termasuk di antaranya adalah echolalia atau meniru kata-kata seseorang dan echopraxia atau meniru tindakan seseorang.

Temuan lain juga menunjukkan jika menguap yang menular ternyata bukan hanya terjadi pada manusia. Hewan lain termasuk anjing dan simpanse juga rentan mengalami fenomena tersebut.

PenulisKontributor Sains, Monika Novena
EditorShierine Wangsa Wibawa

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM