Di Balik Riset Tempe Siswa Indonesia yang Dibawa NASA ke Antariksa - Kompas.com

Di Balik Riset Tempe Siswa Indonesia yang Dibawa NASA ke Antariksa

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 09/06/2017, 04:06 WIB
handout/Eko Trisno Para pelajar dan mahasiswa DEL Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara yang melakukan penelitian

KOMPAS.com -- Sekelompok siswa Indonesia mengambil bagian dalam penelitan luar angkasa yang dilakukan bersana NASA. Misi peluncuran itu merupakan kontrak ke-11 Commercial Resuply (CRS) dari NASA bersama kotraktor perusahaan swasta SpaceX.

Sebanyak delapan siswa dan dua mahasiswa DEL Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, mengirimkan penelitannya untuk mengetahui pengaruh mikrogravitasi terhadap kecepatan proses fermentasi kacang kedelai dalam pembuatan tempe di Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

(Baca juga: Dibawa Roket Misi NASA, Tempe Penelitian Siswa Indonesia Tiba di Antariksa)

Penelitian itu dimulai saat Profesor Joko Waluyo Saputro, Project Coordinator Indonesia Space Research Group, menghubungi beberapa sekolah untuk mengirimkan proposal ide. Ternyata, proposal SMA Unggulan DEL pun diterima dengan baik.

Guru pendamping para siswa, Eka Trisno Samosir, mengatakan, penelitian tersebut dilakukan untuk melihat kecepatan proses fermentasi kacang kedelai di luar angkasa. Bila berhasil, tempe akan menjadi salah satu pilihan makanan para astronot dan manusia bila tidak lagi menjadi penghuni bumi.

“Ini penelitian lanjutan dari 2016 lalu yang telah menyatakan bahwa ragi bisa tumbuh di ISS. Penelitan kedua ini hipotesisnya fermentasi akan berjalan lebih cepat. Kalau di bumi bisa menghabiskan waktu 2-3 hari. Di ISS bisa 1 hari,” kata Eka saat dihubungi Kamis (8/6/2017).

Untuk menguji hal itu, biji kacang kedelai dikeringkan menggunakan kipas angin dengan kecepatan reguler. Proses pengeringan dilakukan selama 10 jam untuk mengeringkan air di dalam biji kacang setelah melewati perebusan.

Lalu, untuk memastikan hilangnya air, biji kacang dibiarkan selama beberapa hari. Bila tidak membusuk, ragi ditaburkan di permukaan biji kacang dan kembali didiamkan selama satu bulan.

“Kemudian kami beri air karena biji kacang telah kehilangan air sebelumnya. Ternyata air yang dibutuhkan lebih banyak dari pada air yang dikeringkan. Perbedaan ukurannya mililiter, tapi cukup berpengaruh. Setelah dua sampai tiga hari, raginya tumbuh,” kata Eka.

Pengujian itu dilakukan untuk mengetahui kondisi yang diperlukan agar ragi tidak tumbuh sebelum sampai di ISS. Setelah pengeringan di bumi, sebuah program yang diinstal di laboratorium mikro akan mengatur pemberian ragi. “Program baru berjalan setelah astronot di ISS mencolokkan listrik ke laboratorium mikro,” ucap Eka.

(Baca juga: Remaja India Ini Ciptakan Satelit Teringan di Dunia untuk NASA)

Meski demikian, objek penelitan tidak boleh sembarangan dan harus mendapat persetujuan dari NASA. Hal itu dilakukan untuk menjaga keselamatan astronot dan wahana antariksa di ISS.

Dalam menggunakan objek penelitian, misalnya. Kacang kedelai yang dijadikan objek harus memiliki kriteria kesehatan dan keamanan. Lalu, biji kacang kedelai harus melewati tahap penelitian untuk mengetahui materi yang terkandung. Selain itu, dokumen verifikasi kesehatan biji kedelai dari pemerintah juga harus dimiliki produsen.

Eka bercerita, pihak NASA pun sempat meminta alamat situs pembelian biji kedelai lokal. Lalu, Eka disarankan untuk tidak menggunkan biji kedelai lokal karena akan memakan waktu verifikasi admistrasi dan pegujian kandungan biji oleh NASA.

Akhirnya, biji kedelai dibeli sebanyak lima bungkus yang masing-masing berisi 45 biji dari sebuah perusahaan di California. Sebelumnya, perusahaan tersebut sudah pernah bekerja sama dengan NASA.

“Kami sempat menggunakan biji lokal. Kami coba pertama kali dan kami utarakan ke mereka melalui Skype. Kami ceritakanlah. Mereka tanya sudah ada sertifikatnya (atau) tidak biji itu. Kami bilang tidak ada. Mereka tidak menyarankan menggunakan biji lokal karena akan memakan waktu,” ujar Eka.

(Baca juga: NASA Ciptakan Kebun untuk Astronot di Mars)

Menurut Eka, kesulitan terjadi saat menyusun skema komponen ke dalam laboratorium mikro. Laboratorium seukuran kotak pasta gigi (100 mm x 40 mm) itu diberikan oleh NASA untuk memuat biji kedelai, chip, kamera, dan benda lainnya. Dengan demikian, semua penelitian siswa SMA dari seluruh dunia bisa muat di dalam kotak yang sedikit lebih besar dari kardus mie instan.

Kini, penelitan tersebut telah berada di ISS setelah meluncur selama 36 jam dari landasan luncur (launch pad) nomor 39-A di Pusat Antariksa Kennedy, Amerika Serikat, Minggu (4/6/2017) waktu Indonesia. Untuk mengetahui hasilnya, diperlukan waktu sekitar satu setengah bulan.

handout/Eka Trisno Eka Trisno Samosir dan salah seorang siswanya saat berada di NASA Amerika Serikat pada akhir Januari 2017 lalu.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM