Ada “Peran” Kita di Balik Alasan Seseorang Bunuh Diri? - Kompas.com

Ada “Peran” Kita di Balik Alasan Seseorang Bunuh Diri?

Palupi Annisa Auliani
Kompas.com - 10/04/2017, 14:49 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com – Terlalu provokatif judul artikel ini? Teman dan keluarga kita saat ini terlihat baik-baik saja semua?

Pernahkah terpikir dalam segala hal yang terlihat dan diakui baik-baik saja itu ada banyak kepalsuan realitas, termasuk dari respons kita, yang bahkan bisa menjadi penyebab seseorang memutuskan mengakhiri hidup?

(Baca juga: Bagaimana Mengenali dan Merespons Gelagat Bunuh Diri?)

Mari belajar dari serial 13 Reasons Why yang pernah tayang di jaringan Netflix.

Film ini dimulai dengan fakta bunuh dirinya seorang pelajar SMA bernama Hannah Baker. Locker miliknya dengan tempelan ungkapan duka atau kenangan teman-temannya, menjadi objek utama sorotan kamera.

Bersama itu, suara Hannah bicara  menjadi voice over di adegan pembuka serial ini.

“Hai, saya Hannah. Hannah Baker. Kamu tak perlu memperbaiki peralatanmu, ini benar-benar saya, hidup dan bersuara,” begitu tepatnya.

Tunggu. Suara? Bukannya Hannah disebut sudah meninggal karena bunuh diri?

Ya, Hannah memang bunuh diri. Itu setelah dia merasa semua upayanya untuk mempertahankan hidup sudah menemui jalan buntu.

Semua upaya dan cerita di balik keputusan tragisnya tersebut dia rekam dalam 13 kaset. Rekaman di kaset nomor satu-lah yang menjadi suara pembuka adegan serial.

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

Jangan dibayangkan Hannah itu anak miskin, jelek, dan terkucil. Dia cantik, keluarga mapan kelas menengah, jadi incaran cowok-cowok di sekolahnya, punya kerja sambilan, dan seterusnya seperti gambaran anak dalam kondisi “baik-baik” saja.

Lalu, tokoh utama serial ini adalah Clay Jensen, anak lelaki yang menjadi salah satu alasan Hannah merasa hidupnya tak lagi bermakna, yang tentu saja disebut dalam rekaman itu. Yup, kaset-kaset ini dikirimkan kepada setiap orang yang ada di balik keputusan Hannah.

(Baca juga: Einstein, Zuckerberg, dan Misteri Mentalitas Generasi Medsos)

Tunggu dulu. Clay juga bukan anak bengal di sekolah. “Kesalahan” Clay, seperti ujar dia di dalam serial itu, adalah tidak berani mengakui telah jatuh hati pada Hannah.

Namun, bagi Hannah, penghindaran Clay dianggap sebagai bentuk kebencian, terutama setelah Hannah menjadi korban bully gara-gara foto yang disebar lewat ponsel teman-temannya.

Adalah Clay, di antara semua orang yang telah mendengarkan isi rekaman tersebut, yang kemudian berupaya melakukan perbaikan. Upayanya memang tak menghidupkan lagi Hannah, tetapi sebuah pengungkapan besar tentang kehidupan sosial dia jalin lagi.

Keseluruhan cerita serial ini tak lebih dan tak kurang mengungkap semua peristiwa yang sepertinya juga ada dalam kehidupan kita, tapi dianggap biasa dan baik-baik saja.

Inilah cerita tentang anak manusia yang hati, pikiran, dan jiwanya terluka oleh sikap orang-orang di sekitarnya, lalu merasa tak berdaya. Teman, keluarga, dan lingkungan sosial keseharian, menjadi "sasaran" utama dari sentilan film ini.

“Ah, itu kan Hannah saja yang lemah,” barangkali seperti itu suara di kepala kita bersuara. Atau, kilah seperti kata guru pembimbing dalam film ini yang muncul, “Kita tidak pernah tahu isi hati dan pikiran Hannah”?

Ilustrasi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi.
Sebagai bahan introspeksi, ungkapan retoris Clay bisa jadi renungan. “Bagaimana kalau sebenarnya kita tahu ada yang tidak beres tetapi tidak bertindak apa-apa sampai semua terlambat?”

Pernahkah kita menjadi orang yang dipercayai seseorang tetapi lalu “ngasal” atau normatif saja memberikan nasihat? “Sudahlah, move on saja...,” terdengar familiar, saran semacam ini ketika ada yang bercerita tentang perbuatan buruk orang kepadanya?

(Baca juga: Depresi, ke Mana Harus Curhat?)

Dalam 13 rekaman kaset suara Hannah dan muncul dalam adegan-adegan serial tersebut, sejumlah peristiwa yang terjadi bukanlah hal asing dalam keseharian kita.

Perundungan alias bullying menggunakan sebuah foto, jadi contoh pertama. Niatnya pun tak lebih dan tak kurang dari bercanda sekaligus menganggap enteng penyebaran foto pribadi.

Lalu, ada juga sosok playboy di sekolahan yang gampang menebar janji kepada anak-anak gadis orang, demi memenuhi hasrat puber.  Merenggut mahkota gadis-gadis atas nama cinta. Lalu enteng saja meremukkan hati sekaligus merusak pertemanan di antara para gadis.

Belum lagi, kebiasaan bergerombol karena merasa kuat atau unggul. Disusul “ketaatan” pada si bos demi tetap ada di kelompok. Lalu, “rasa kuat” ini menjadi pembenar untuk berlaku sesukanya pada orang lain yang tak sepopuler atau sealiran dengan mereka, sendirian pula.

IlustrasiSHUTTERSTOCK Ilustrasi

Terlepas dari judgement yang biasanya enteng saja diberikan pada orang lain, kalimat Hannah di kaset 13 bisa jadi perenungan tersendiri.

“Satu upaya lagi untuk memutuskan tetap hidup,” kata Hannah di awal rekaman kaset ke-13 itu. Dia memutuskan berusaha mencari pertolongan kepada orang-orang yang seharusnya memang ada untuk menolong.

Setelah ucapan itu, misalnya, adegan memperlihatkan Hannah mampir ke toko orangtuanya. Dialog dan kesibukan yang tergambar menjadi latar untuk suara lain Hannah, “Dan sepertinya sudah gagal mendapatkan alasan (hidup) di sini.”

Pada hari yang sama, Hannah menghadap pula guru pembimbing untuk konseling di sekolahnya. Percakapan panjang, penuh isyarat Hannah tentang hidup yang tak punya makna dan cerita tentang semua peristiwa yang menghancurkan dirinya di sana.

Namun, seperti tudingan Clay, bahkan orang-orang yang seharusnya punya kuasa untuk bertindak memilih jalan aman. Dan, hidup Hannah pun berakhir pada hari itu.

Pertanyaan-pertanyaan Clay pada guru pembimbingnya pada edisi 13 serial ini, barangkali juga pertanyaan yang seharusnya jadi cermin buat kita sehari-hari. Clay pun lalu menitipkan harap dalam kata-kata terakhirnya kepada sang guru.

“Semua harus bisa membaik. Cara kita memperlakukan dan menjaga satu sama lain itu harusnya lebih baik, apa pun caranya.”  

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi
Baiklah. Serial ini memang hanya fiksi, rekaan. Namun, fakta mengungkap, 90 persen pelaku bunuh diri ditengarai mengalami masalah jiwa, dengan sebagian besarnya berupa depresi.

Lalu, sejumlah riset, pakar, dan artikel telah mengungkap beragam kesalahan respons yang sering diterima orang-orang kalut ini.

Teknologi komunikasi menambah persoalan dengan “mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat”. Mengobrol dengan tatap muka lalu saling menyelami isi hati dan pikiran, berasa Cuma jadi selingan di antara lebih banyak percakapan melalui gadget dan teknologi.

Saat orang curhat, yang ada malah jadi bahan becandaan, masih sokur kalau tidak disebarluaskan.

(Baca juga: Kenali Gejala Depresi, Pemicu Utama Bunuh Diri)

Jangan-jangan, memang ada kita sebagai salah satu alasan, ketika seseorang sedemikian merasa “tersesat” dan “sendirian” lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang terasa hampa tanpa makna?

Sadar atau tidak, jangan-jangan kita-lah yang telah membuat seseorang "patah", sadar atau tidak sadar, punya kilah atau tidak, sekadar kebiasaan atau memang sengaja punya niat?

Atau, saatnya kita merenungkan ulang makna kehidupan dan cara menjalaninya bersama-sama?

KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI Infografik deteksi dan respons gelagat bunuh diri

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisPalupi Annisa Auliani
EditorAmir Sodikin
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM