Sabtu, 19 April 2014

News / Sains

Hisab dan Rukyat Masa Kini

Minggu, 21 Juli 2013 | 10:15 WIB
Sumber: Observatorium Bosscha, 2013. Teleskop yang terpasang pada penyangga otomatik dan terangkai dengan detektor CCD sedang menjejak Bulan secara berkesinambungan pada Senin 10 Juni 2013 lalu di kompleks Observatorium Bosscha, Lembang (Jawa Barat). Inset: citra lengkungan sabit Bulan yang diabadikan pada pukul 13:51 WIB, bertepatan dengan umur Bulan 38 jam dan elongasi 17,8 derajat.

Baca juga


Muh. Ma'rufin Sudibyo*


KOMPAS.com - Selain belum terbentuknya kesepakatan para pihak, penentuan awal Ramadhan dan hari raya di Indonesia menjadi kian kompleks seiring berkembangnya 26 sistem hisab dan sebagian di antaranya memiliki akar yang dalam di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Khususnya melalui lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan. Meski telah diklasifikasikan dalam golongan kurang akurat (taqriby), akurat (tahqiqi), dan sangat akurat (haqiqi bittahqiq), sebagian di antaranya mengklaim diri mempunyai akurasi tinggi atas dasar keberhasilannya mendeteksi hilal, meski masih kontroversial.

Masalah akurasi ini menarik perhatian kala berselang dua bulan kalender sebelum Ramadhan 1434 H, terjadi insiden kecil yang tak begitu terekspos, namun penting. Insiden itu, pada Jumat, 10 Mei 2013 pagi, saat sebagian besar Indonesia menjadi kawasan terpapar Gerhana Matahari, meski hanya tercakup zona penumbra (bayangan sekunder) sehingga mengalami gerhana sebagian saja. Semua terkesiap saat gerhana ternyata benar-benar terjadi dan laporan-laporan observasi (rukyat) gerhana pun bermunculan dari berbagai penjuru Indonesia.

Padahal, sebagian dari 26 sistem hisab itu memprediksi Indonesia tidak tercakup ke dalam kawasan Gerhana Matahari, termasuk sistem yang dipakai ormas arus utama. Bahkan, ormas yang modern pun turut kejeblos kala memublikasikan gerhana bakal terjadi pada Sabtu 11 Mei 2013 atau berselisih sehari kemudian.

Peristiwa ini memberikan kesan terjadinya salah-hitung sekaligus mengundang tanya bagaimana kendali mutu (tashih) yang diterapkan dalam tubuhnya? Kasus ini bukan yang pertama karena dalam sejumlah peristiwa gerhana sebelumnya, umumnya Gerhana Bulan, hal serupa juga dijumpai.

Hisab modern

Jika untuk memprediksi Gerhana Bulan atau Matahari saja meleset, dapatkah kita menaruh percaya akan kredibilitasnya dalam menyuguhkan hasil hisab bagi kepentingan penentuan awal Ramadhan dan hari raya?

Terlebih di masa kini, khususnya dalam empat dasawarsa terakhir, di luar sana telah terbangun pengetahuan prediktif posisi Bulan yang jauh lebih akurat seiring suksesnya pendaratan manusia di Bulan lewat program Apollo. Ke-12 astronot yang menapakkan kaki di Bulan itu secara terpisah telah memasang cermin retroreflektor untuk keperluan pengukuran jarak Bumi-Bulan menggunakan berkas laser sehingga menghasilkan presisi sangat tinggi.

Maka, kini kita bisa mengukur jarak Bumi-Bulan dengan begitu akurat sehingga paling banter hanya akan meleset beberapa sentimeter saja. Konsekuensinya, kita pun kini memperoleh algoritma mutakhir yang mampu memprediksikan posisi Bulan dengan tingkat ketelitian sangat tinggi, jauh melampaui apa yang pernah ada dalam bayangan Galileo Galilei atau Johannes Kepler sekalipun. 

Idealnya, akurasi sistem hisab diukur berdasarkan perbandingannya terhadap hasil rukyat. Namun, bukan rukyat hilal seiring belum adanya definisi yang ilmiah dan berterima terhadap obyek bernama hilal ini. Selain untuk memprediksi hilal, seluruh sistem hisab pada galibnya bertujuan memprediksi posisi Bulan dan Matahari pada waktu-waktu tertentu yang dikehendaki.

Dalam kenyataannya, selain menghasilkan fase-fase Bulan yang beraneka ragam, kombinasi pergerakan Matahari dan Bulan secara bersama-sama juga menghasilkan fenomena gerhana berupa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan.

Gerhana Matahari selalu bertepatan dengan saat konjungsi (ijtima’), sementara Gerhana Bulan bersamaan waktunya dengan Bulan purnama/oposisi (istikbal). Sistem hisab yang akurat adalah yang mampu memprediksikan Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan. Termasuk dalam memprediksi bermacam bentuk gerhana. Misalnya, dalam Gerhana Matahari berupa Gerhana Total, Gerhana Cincin dan Gerhana Parsial (Sebagian). Sementara, bagi Gerhana Bulan adalah Gerhana Total, Gerhana Parsial, dan Gerhana Penumbral.

Dalam kasus Gerhana Matahari 10 Mei 2013 lalu, ternyata hanya sebagian sistem hisab khususnya yang tercakup pada golongan haqiqi bittahqiq yang mampu memprediksinya. Yakni sistem hisab yang berdasarkan algoritma VSOP-87 ataupun ELP-2000 dengan segala versinya. Mereka adalah turunan langsung dari data rukyat pengukuran jarak Bumi-Bulan termutakhir berbasis cermin retroreflektor.

Fakta tersebut menunjukkan sistem hisab berakurasi sangat tinggi adalah sistem hisab generasi termutakhir. Sebagai implikasi dari akurasinya, sistem ini juga dikenal rumit karena berbasis banyak sekali persamaan matematis yang memperhitungkan banyak faktor dan banyak diantara persamaannya yang demikian panjang. Hal ini dipandang menyulitkan, khususnya dalam kacamata klasik.

Pada saat yang sama, kerumitan ini tak perlu terjadi seiring perkembangan teknologi komputasi dan informasi. Kini algoritma-algoritma tersebut telah diimplementasikan pula dalam sejumlah program komputer yang mudah digunakan, misalnya Starry Night, Stellarium, Celestia, Accurate Times, Mawaaqit dan sebagainya.

Keberadaan program-program ini, meski belum sepenuhnya sempurna, amat membantu dan menghemat waktu dalam memprediksi posisi Bulan selain juga menyediakan visualisasi yang sangat menarik. Inilah generasi sistem hisab modern.

Rukyat modern

Seirama dengan tumbuh-kembangnya sistem hisab modern, rukyat hilal pun mengalami perkembangan yang tak kalah mengesankan. Kini, rukyat hilal tak lagi dicerminkan oleh jajaran orang berdiri merunut garis tertentu di tepi pantai sambil melayangkan pandangannya jauh ke batas cakrawala barat dengan mengandalkan ketajaman mata tanpa alat bantu optik.

Dok. Muh Ma'rufin Sudibyo Contoh hasil rukyat Bulan menggunakan binokuler yang dirangkai dengan kamera digital biasa dalam kesempatan rukyat hilaal tua pada 29 Agustus 2008 pukul 05:34 WIB dari kompleks Jakarta Islamic Center, Jakarta.
Perkembangan teknologi dan zaman telah memungkinkan teleskop semakin terjangkau sehingga memasuki medan rukyat hilal, khususnya teleskop mobile. Demikian juga beberapa alat bantu optik lainnya seperti teodolit dan binokuler.

Binokuler merupakan teleskop sederhana dengan perbesaran kecil. Instrumen ini umumnya digunakan oleh penghobi untuk beragam keperluan observasi, dari mengamati burung hingga fenomena langit. Di tangan perukyat berpengalaman, binokuler cukup membantu untuk menyajikan detil lengkungan sabit Bulan. Sementara teodolit sejatinya merupakan instrumen pengukuran ruang, namun juga dapat dimanfaatkan bagi keperluan rukyat benda langit termasuk hilaal. Instrumen ini berpangkal pada prinsip yang sama dengan rubu’ (sextant) dalam khasanah astronomi klasik, sehingga berfungsi untuk mengukur jarak sudut secara horizontal dan vertikal. Namun dengan teleskop mini berpembesaran kecil yang menjadi bagian tak terpisahkan darinya, maka teodolit pun menjadi salah satu instrumen penting. Terutama karena ia bisa bergerak (manual) merujuk posisi tinggi dan azimuth benda langit apapun, termasuk Bulan, sepanjang datanya tersedia.

Teleskop lebih kompleks dibanding teodolit ataupun binokuler khususnya karena terpasang pada penyangga (mounting) dengan rujukan tertentu, misalnya ekuatorial. Teleskop juga memiliki medan pandang (field of view) lebih sempit dibanding binokuler ataupun teodolit, sehingga membutuhkan data posisi benda langit dalam tingkat akurasi lebih tinggi. Meski demikian perkembangan teknologi kini telah memungkinkan adanya penyangga otomatik. Dengan penyangga ini, jika telah dikalibrasikan sebelumnya, maka teleskop mampu menjejak (tracking) Bulan secara terus-menerus dari waktu ke waktu meski posisi Bulan telah berubah, sepanjang masih tetap ada di atas cakrawala. Kemampuan ini cukup menguntungkan karena perukyat tinggal berkonsentrasi pada upaya rukyat hilaal itu sendiri.

Baik teleskop, binokuler maupun teodolit mengandalkan mata untuk mendeteksi hilaal melalui lensa okulernya. Namun perkembangan astronomi modern memungkinkan peranan mata mulai tergantikan detektor elektronis seperti kamera CCD (charged couple device) dalam beragam resolusi. Sehingga hasil rukyat langsung berbentuk sebagai file digital yang dapat langsung ditayangkan ke publik via dunia maya. Dapat pula disimpan untuk diolah secara fotografis sehingga menghasilkan gambaran lebih baik, ataupun dianalisis lebih lanjut. Penggunaan filter khusus pun ditambahkan sehingga benderangnya langit bisa direduksi. Dengan segala kemajuan tersebut kini sabit Bulan di siang bolong pun dapat dirukyat di berbagai tempat. Termasuk di Indonesia.

* Muh Ma'rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary