Kompas.com - 10/12/2019, 08:03 WIB
Ilustrasi Keiki/ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Pemanasan lobal dan polusi memperburuk kadar oksigen di lautan. Hal ini membahayakan bagi beragam spesies laut.

Hal tersebut diketahui berdasarkan penelitian dari badan konservasi International Union for Conservation of Nature (IUCN). Para peneliti menyebutkan bahwa perubahan iklim mengakibatkan turunnya level oksigen pada lautan.

Kini, sekitar 700 lautan di dunia mengalami kekurangan oksigen. Bandingkan dengan tahun 1960-an, di mana hanya 45 lautan yang kekurangan oksigen.

Fenomena ini menyebabkan beberapa spesies lautan terancam. Antara lain tuna, marlin, dan hiu.

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Kita Wajib Menjaga Lautan

Selain perubahan iklim dan pemanasan global, polusi kimiawi dari pesisir pantai juga jadi penyebab turunnya kadar oksigen. Beberapa zat kimia yang membahayakan antara lain nitrogen dan fosfor, yang biasa dihasilkan dari industri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, efek rumah kaca mengakibatkan karbondioksida yang terserap lautan menjadi lebih banyak. Hal itu membuat oksigen lebih sulit untuk terserap dalam air. Para ilmuwan mengestimasi, antara tahun 1960 hingga 2010, jumlah oksigen yang bisa terserap lautan berkurang sebanyak dua persen.

Sementara pada beberapa titik di lautan tropis, angka tersebut bisa mencapai 40 persen.

Hiu banteng ((Carcharhinus leucas), jenis hiu dengan gigitan terkuat. BBC Hiu banteng ((Carcharhinus leucas), jenis hiu dengan gigitan terkuat.

Bahkan perubahan kecil pun dapat mengubah kehidupan laut secara signifikan. Lautan dengan kadar oksigen tipis bisa saja dihuni oleh ubur-ubur, namun tidak cukup kuat untuk kehidupan hiu dan tuna.

“Kami sudah mengetahui tentang turunnya kadar oksigen ini, namun baru diketahui salah satu penyebabnya adalah perubahan iklim dan ini sangat mengkhawatirkan,” tutur Minna Epps dari IUCN seperti dikutip dari BBC, Senin (9/12/2019).

Tak hanya berkurang drastis selama 50 tahun terakhir, kadar oksigen juga akan terus berkurang di kemudian hari.

Baca juga: Polusi Plastik di Lautan Ancam Oksigen Dunia, Kok Bisa?

Hal ini sangat buruk untuk spesies ikan besar dan bergerak cepat seperti hiu, tuna, dan marlin. Jika industry masih meluapkan emisi seperti sekarang, pada 2100 diperkirakan lautan akan kekurangan 3-4 persen oksigen dari saat ini.

Level yang paling terkena dampaknya adalah pada kedalaman 1.000 meter pertama di bawah permukaan laut. Ini adalah level dengan biodiversitas terbanyak dibanding lautan yang lebih dalam.



Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luhut Sebut Herd Immunity Susah Terwujud, Epidemiolog: Ini Target Jangka Panjang

Luhut Sebut Herd Immunity Susah Terwujud, Epidemiolog: Ini Target Jangka Panjang

Kita
Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter

Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter

Kita
Agar Indonesia Cepat Keluar dari Pandemi, Ini yang Harus Dilakukan

Agar Indonesia Cepat Keluar dari Pandemi, Ini yang Harus Dilakukan

Kita
Sudah Disetujui Kemenkes, Ini Syarat Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil

Sudah Disetujui Kemenkes, Ini Syarat Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil

Kita
[POPULER SAINS] Kandungan Sodium di Mi Instan | Indonesia Masuki Puncak Covid-19

[POPULER SAINS] Kandungan Sodium di Mi Instan | Indonesia Masuki Puncak Covid-19

Oh Begitu
Orang yang Alami Reaksi Alergi pada Dosis Pertama Vaksin mRNA, Terbukti Mampu Menoleransi Dosis Kedua

Orang yang Alami Reaksi Alergi pada Dosis Pertama Vaksin mRNA, Terbukti Mampu Menoleransi Dosis Kedua

Oh Begitu
Mengenal Apa Itu mRNA pada Vaksin Pfizer dan Moderna

Mengenal Apa Itu mRNA pada Vaksin Pfizer dan Moderna

Oh Begitu
Bintang Unik Ini Meluncur Keluar dari Galaksi Bima Sakti

Bintang Unik Ini Meluncur Keluar dari Galaksi Bima Sakti

Fenomena
CDC Tunjukkan Kekuatan Vaksin Covid-19 Lindungi dari Infeksi Parah

CDC Tunjukkan Kekuatan Vaksin Covid-19 Lindungi dari Infeksi Parah

Oh Begitu
7 Cara Mencegah Hewan Terinfeksi Covid-19 Menurut KLHK

7 Cara Mencegah Hewan Terinfeksi Covid-19 Menurut KLHK

Oh Begitu
3 Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Ibu Hamil, Jenis dan Efikasinya

3 Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Ibu Hamil, Jenis dan Efikasinya

Oh Begitu
Bukan Cuma Faktor Umur, Ini Alasan Rambut Memutih dan Beruban

Bukan Cuma Faktor Umur, Ini Alasan Rambut Memutih dan Beruban

Kita
Kandungan Sodium dalam Mi Instan Sangat Tinggi, Kenali Risikonya

Kandungan Sodium dalam Mi Instan Sangat Tinggi, Kenali Risikonya

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Gejala Brain Fog pada Long Covid Bisa Menurunkan IQ

Ilmuwan Ungkap Gejala Brain Fog pada Long Covid Bisa Menurunkan IQ

Oh Begitu
Luhut Sebut Kasus Covid-19 Turun 50 Persen, Epidemiolog: Indonesia Baru Masuki Titik Puncak Pandemi

Luhut Sebut Kasus Covid-19 Turun 50 Persen, Epidemiolog: Indonesia Baru Masuki Titik Puncak Pandemi

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X