Agnez Mo Sebut Tak Punya Darah Indonesia, Antropolog: Dia Tidak Salah

Kompas.com - 27/11/2019, 19:32 WIB
Agnez Mo saat menjadi bintang tamu di program BUILD Series nyatakan ingin kolaborasi dengan BTS YouTube BUILD SeriesAgnez Mo saat menjadi bintang tamu di program BUILD Series nyatakan ingin kolaborasi dengan BTS

KOMPAS.com - Penyanyi Agnez Mo yang kini berkarier di Amerika Serikat mendapat sorotan sejak kemarin (26/11/2019). Hal ini lantaran ucapan Agnez yang mengatakan, dia tidak memiliki darah Indonesia.

Pengakuan itu disampaikan Agnez pada menit ke-7 dalam sebuah video di YouTube ketika menjadi bintang tamu dalam program Build yang dipandu oleh Kevin Kenny.

Awalnya, Kenny bertanya mengenai dirinya yang berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia.

"Sebenarnya saya sama sekali tidak memiliki darah Indonesia. Saya ini berdarah Jerman, Jepang, China. Saya lahir di Indonesia," jawab Agnez dalam sesi wawancara itu.

"Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya tidak merasa memiliki keterikatan dengan Indonesia, karena saya merasa orang-orang di sana selalu bisa menerima saya. Hanya saja ada perasaan 'saya tidak seperti orang-orang lainnya'," jelas Agnez.

Baca juga: Agnez Mo dan Kontroversi soal Darah Indonesia

Atas pernyataan tersebut, perempuan yang memiliki nama lengkap Agnes Monica Muljoto mendapat kecaman warganet. Tak tanggung-tanggung, Agnez disebut tidak memiliki rasa nasionalisme setelah berkarier di negeri orang.

Berikut cuplikan wawancara Agnez dalam program Build Series.

Berkaitan dengan apa yang dialami Agnez ini, Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A, M.Phil angkat bicara.

Heddy mengatakan, Agnez Mo tidak bersalah.

"Agnez Mo tidak salah. Yang salah yang mendengar dan membaca pernyataan dia, kemudian mencampuradukkan dengan yang lain," kata Heddy dihubungi Kompas.com, Rabu (27/11/2019).

"Soal darah, lain dengan nasionalisme dan kebudayaan. Pernyataan Agnez Mo jadi bermasalah karena yang mendengar atau membaca pernyataan itu tidak teliti membedakan darah dengan kebudayaan dan nasionalisme. Padahal, ketiganya jelas berbeda," terangnya.

Heddy menjelaskan, darah yang dimaksud Agnez adalah persoalan genetik atau persoalan biologis.

Agnez mengaku, nenek moyangnya adalah keturunan China, Jepang, dan Jerman. Namun, ini tidak berarti, Agnez bukan orang Indonesia.

Dia mengatakan tidak berdarah Indonesia karena memang tidak memiliki nenek moyang yang berasal dari suku bangsa Indonesia.

Pernyataan Agnez yang mengakui bahwa dia adalah minoritas dan berbeda juga disebut Heddy tidak salah.

"Orang China minoritas di Indonesia. Agnez Monica yang orang China juga ada keturunan asing adalah minoritas di kalangan orang China. Sebab tidak semua orang China punya keturunan orang Jepang dan Jerman seperti dia," kata Heddy.

Masalah darah beda dengan kebudayaan

Masalah darah atau genetika ini berbeda dengan persoalan kebudayaan.

Agnez Monica lahir di Indonesia, tinggal di Indonesia, dan mengenal budaya Indonesia.

Artinya, kebudayaan yang banyak diketahui Agnez adalah budaya-budaya dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.

"Jadi enggak ada yang perlu dipermasalahkan. Dia tetap orang Indonesia, dan KTP-nya pun KTP Indonesia. Jadi ya dia (Agnez) orang Indonesia," ungkap Heddy.

Heddy mengingatkan, penduduk di Indonesia ini juga banyak yang seperti Agnez, di mana merupakan keturunan orang asing yang tinggal di Indonesia dan mencintai kebudayaan Indonesia.

"Bahkan ada orang bule yang masih warga negara asing, tapi cintanya pada Indonesia luar biasa," katanya.

Soal Nasionalisme

Ketika Agnez mengatakan tidak memiliki darah Indonesia kemudian dicap sebagai orang yang tidak nasionalis, kedua hal ini juga lain dan tidak bisa dicampuradukkan.

"Kecintaan pada Indonesia itu nasionalisme. Ini tidak harus berkaitan dengan fisik atau genetika," ungkapnya.

Heddy melihat, permasalahan ini muncul karena kita tidak dapat memisahkan antara persoalan biologis dengan kecintaan budaya dan nasionalisme.

Padahal, ketiga hal ini berbeda, tapi dikaitkan seolah semuanya bisa menjadi satu.

Baca juga: Tak Ada Pribumi, Begini Tes DNA Tentukan Asal Usul Orang Indonesia

Pesan untuk kita semua

Dari kasus ini, Heddy berharap agar warganet dapat lebih paham terkait perbedaan nasionalisme, kebudayaan, dan garis keturunan yang dilihat secara biologis.

"Warganet perlu hati-hati dalam memahami komentar orang, memahami makna kata benar-benar harus diperhatikan dan jangan hanya sepotong. Tidak harus semuanya dimaknai negatif," tutupnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X